Amuk Mimpi

Amuk Mimpi

8 Maret 2014 pukul 20:17
 In the name of Allah
Sebuah kutipan dari buku Mencari Pahlawan Indonesia Anis Matta, The Tarbawi Center 2004
semoga bermanfaat dan bisa di realisasikan dalam hidup.


Amarah. Ambisi. Dua nilai ini jika menetes dalam jiwa-jiwa yang buruk, maka sejarah berubah menjadi api angkara murka yang meluluhlantakkan kehidupan. Tapi tidak, jika ia menetes dalam jiwa-jiwa yang luhur. Ia bukan lagi nila. Ia embun yang menyegarkan padang rumput di pagi hari, sembari menjemput matahari kehidupan.
Sebab, kamu tidak mungkin bisa melawan tirani kekuasaan, kecuali dengan kekuatan amarah kehormatan. Sebab, hanya ketika kamu memiliki ambisi keabadian, kamu bisa mendirikan imperium kebenaran. Sebab, kamu tidak mungkin bisa melawan iblismu sendiri kecuali dengan kekuatan amarah malaikat penjaga neraka. Sebab, hanya ketika kamu memiliki ambisi meraih surga tertinggi kamu bisa mengalahkan gemuruh rayuan kekuasaan dalam dirimu.
Tidak ada yang salah dengan amarah dan ambisi kecuali jika ia memasuki jiwa yang buruk dan lemah. Ketika itulah Rasulullah berkata, “Jangan berikan kekuasaan ini kepada yang mengharapkannya.” Ketika itulah, Rasulullah berkata kepada Abu Dzar yang datang meminta jabatan, “Wahai Abu Dzar, kamu orang yang lemah, sedang jabatan ini adalah amanah. Di akhirat nanti ia menjadi sumber penyesalan”.
Tapi dalam jiwa-jiwa yang luhur dan kuat, ia akan menjadi semacam ancaman amuk mimpi yang dapat menciptakan drama kehidupan yang mengharu biru. Ketika itulah Nabiyullah Yusuf as dengan gagah berkata kepada Raja Mesir, “Berikan aku kuasa memegang keuangan negara. Aku sanggup menjaganya dan mengetahui seluk beluknya.” ketika itulah Nabiyullah Sulaiman as berdoa, “Ya Allah, berikanlah aku imperium yang luas dan besar. Jangan ada lagi yang boleh memilikinya sesudahku.”
Di antara amarah dan ambisi yang dapat menjadi embun, berdiri tabir yang dapat menjadi embun, berdiri tabir tipis yang seringkali tidak tampak. Hanya ketika kamu memiliki mata hati yang tajam, kamu dapat melihatnya. Hanya kamu sendiri yang dapat menentukannya, apakah ini nila atau embun. Seperti kiasan dalam Alquran, amarah dan ambisi yang lahir dari jiwa-jiwa yang luhur bagaikan “Susu yang mengalir di antara kotoran dan darah, murni dan menyegarkan bagi siapa pun yang meminumnya.”
Itu terjadi ketika kesadaran akan tugas dan tanggung jawab sejarah, kesadaran akan besarnya kapasitas diri, desakan kerusakan lingkungan, dan tantangan besar dari kebathilan, bercampur menjadi satu. Maka, menarilah sang bidadari “Kamu harus menjadi sesuatu dalam sejarah. Dan kamu bisa. Kamu harus mendapatkan aku dalam surga. Dan kamu bisa.”
Begitulah kejadiannya. Dalam satu pertempuran, Rasulullah saw menawarkan tantangan kepada para sahabatnya, “Besok”, kata beliau ketika malam, “akan kuberikan bendera ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Allah mencintainya.” Maka, berbisiklah Umar bin Khattab dalam dirinya, “Tidak pernah aku berambisi meraih sesuatu, kecuali pada malam itu”.
Keesokan harinya, Sang Rasul menyerahkan bendera perang itu. Tidak kepada Umar. Tapi kepada Ali. Tapi itu tidak mengurangi kebesaran Umar. Dia sudah mengatakan, dia pernah punya mimpi itu.
Semoga Allah swt menggolongkan kita ke dalam barisan orang-orang yang senantiasa berusaha mendirikan imperium kebenaran dimanapun dan kapanpun.
0

0 comments:

Post a Comment