Sebelumnya saya ingin memberi tahu alasan mengapa pemikiran ini akhirnya tertuang dalam tulisan. Selain memasak dan menulis adalah hobi saya (eh.., kok jadi curhat )...., status ini dibuat dalam rangka menuangkan hasil diskusi tanpa di sengaja yang berlangsung lebih kurang 30 menit sebelum adzan Magrib di Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga UIN Sunan Kalijaga..., sebenarnya tulisan ini juga lahir dari pemikiran saya dari diskusi tadi yang pastinya masih dangkal dan sempit kaya kolam renang buat anak balita. Tulisan ini bukan sesuatu hal yang baru, hal klasik malah. Bukan juga tentang kemahasiswaan. Hanya opini dari saya yang belum ada apa-apanya dibanding pembaca. Oke sebenarnya bingung harus mulai darimana, tapi sebenarnya tulisan ini sudah dimulai daritadi kan ya? hee....,
Jadi begini, setelah kuliah 1,5 tahun di UIN dan lebih tepatnya di FST, saya merasa atmosfer belajar di kampus cukup membuat saya tidak nyaman..., mengapa why because karena? hee.., ya karena kebanyakan dari kita (kita lho, berarti saya juga termasuk!) seperti berlari dalam perlombaan mengejar nilai. Ya sekali lagi ini menurut cara pandang saya yang sempit. Oh iya, nilai yang saya maksudkan adalah nilai seperti A, B, C, atau T_T ya....,
Mungkin saya harus menyertakan beberapa alasan mengapa kita bisa dikatakan mengejar nilai. Pertama, kita masih lebih sering belajar dari bundel soal dan bukannya belajar dari membaca teorinya di buku terlebih dahulu lalu mencoba mengerjakan latihan soal. Selain itu...., kita sering sekali menjadikan slide, diktat kuliah, dan buku latihan soal tersebut sebagai referensi utama, dengan alasan efisiensi waktu dan merasa isi buku sama saja dengan isi slide Dosen. Kita tidak tertarik untuk mengetahui ilmu tersebut lebih dalam. Kalau dihitung hitung berapa buku kuliah yang telah habis kita baca selama 1,5 tahun ini? Kalau saya jujur belum ada. Lingkup yang lebih kecil lagi, berapa bab yang pernah kita baca sampai habis hingga saat ini? Ya, saya ada tapi tak seberapa...,
Ada bukti lain yang lebih menyedihkan, (menyebalkan sih sebenarnya...,) Karena kita mengejar nilai, kita cenderung menjadi orang yang ambisius. Seseorang ambisius yang didorong oleh motivasi yang salah dan sepele! motivasi mengejar nilai untuk kepentingan pribadi, untuk pemuasaan diri, untuk mengalahkan orang lain, ataupun untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Jeleknya lagi, karena motivasi itu kita jadi sering belajar ngumpet-ngumpet, takut orang lain ikutan belajar, takut didahului orang lain, takut dikatain ambis, dan enggan berbagi ilmu dengan yang lain. Padahal ilmu adalah sesuatu yang apabila kita bagikan tak akan membuat kita jatuh miskin! bahkan, SALAH SATU ORANG YANG PERTAMAKALI DI MASUKKAN KE DALAM API NERAKA OLEH ALLAH ADALAH ORANG YANG BER-ILMU TAPI TIDAK MAU MENGAMALKAN!
Suasana belajar yang terkesan berlomba-lomba menjadi yang terbaik tanpa menikmati prosesnya ini yang membuat saya tidak nyaman..., membuat seperti segala sesuatunya dikejar-kejar. Membuat perasaan bahwa kalau kita baca buku, mencari-cari referensi dari sumber lain adalah sesuatu hal yang bertele-tele. Membuat perasaan takut ketinggalan dan takut dapat nilai jelek apabila kita tidak mengikuti budaya ambisius itu. Membuat semuanya mau tak mau harus ikut ke dalam perlombaan ini...., Sedih
Mengapa ya kita tidak menikmati pelajaran kita, mengapa ya kita lebih fokus pada nilai dibanding sama ilmu yang kita pelajari. Padahal kita sama-sama tahu di buku banyaaaakkk banget hal baru! di buku banyak banget hal menarik! tidak mungkin buku dibuat setebal itu isinya omong kosong semata, pasti jauh lebih banyak hal yang bisa kita dapat dari buku dibanding dari slide kuliah! mungkin kita perlu belajar mencintai dan menikmati pelajaran agar kita tidak lagi terfokus pada nilai apa yang akan kita raih tapi lebih fokus dengan ilmu apa yang akan kita dapat...,
Ada sedikit analogi yang saya nggak tahu kebenarannya mutlak apa tidak...., jadi ada ilmu, kita, dan nilai. Ilmu itu bergerak berlawanan arah dengan kita, dan nilai bergerak searah dengan kita. Kita berada diantara ilmu dan nilai. Kalau kita mengejar nilai.., nilai akan menjauh dari kita, ilmu juga akan menjauh dari kita. Kalau kita mengejar ilmu.., ilmu akan semakin mendekat kepada kita, dan nilai akan mengikuti kita. Semoga analogi ini cukup untuk membuat kita sadar bahwa ilmu jauh lebih penting daripada nilai yang kita kejar. Semoga kita lebih mengejar kenikmatan dalam belajar dan semoga kita selalu haus akan ilmu, bukan akan nilai...,
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment