Impian Menjadi Seorang Istri Yang Tak Gugur di Dapur :D

Saya masih ingat betul, setiap saya pulang sekolah dulu, teriakan kedua setelah salam ketika masuk rumah adalah: " Mi, masak apa hari ini ? ". Masakan khas Ummi bagi saya memang memiliki daya tarik tersendiri. Ada hal irasional yang mampu memperkuat cita rasa apapun yang dimasak Ummi. Tak heran, dulu saya hanya mau makan sayur yang dibuat Ummi..., diluar itu bukan perkara mudah bagi saya untuk mau makan sayuran. Melihat dari sosok Ummi, dulu saya berpikir bahwa semua ibu tentunya pintar memasak...., memasak seolah menjadi pekerjaan yang identik dengan kaum perempuan. Namun semakin beranjak dewasa, saya menemui kenyataan bahwa tidak semua perempuan mahir memasak.., bahkan sebagian dari mereka memang tidak menyukai bidang itu. 

Tentunya ada banyak alasan mengapa sebagian wanita tidak suka memasak..., mulai dari ketidakmampuannya di bidang tersebut, lebih baik mengerjakan hal lain yang lebih produktif, kesetaraan gender, bahkan hingga tidak adanya aturan yang tertuang dalam Al-Quran dan Hadist mengenai perkara tersebut. Mengenai alasan ini, tak perlulah kita memperdebatkan karena bukan itu tujuan dibuatnya tulisan ini.

Keahlian dalam memasak bagi saya adalah pembeda yang unik.., ia adalah salah satu magnet yang mendekatkan seorang suami dengan rumahnya..., (terinspirasi dari Ummi & Abah). Ba'da Magrib ketika asyik makan bersama Abah bilang: "meskipun Abah menemukan banyak makanan yang terlihat enak di luar, Abah tetap akan lebih menyukai masakan yang ada di rumah. Karena Abah mengetahui siapa yang memasaknya, mengetahui akan kebersihannya dan mengetahui dengan uang apa itu semua dibeli. perempuan yang mampu memasak jika telah berkeluarga maka ia akan menjadi perekat di keluarganya, ia menjadi faktor yang membahagiakan suami dan anak-anak melalui masakan yang dibuat. Dengan masakan tersebut, keluarga dapat bercengkrama bersama menikmati hidangan yang disajikan. Saat berkumpul itulah timbul kedekatan-kedekatan di antara anggota-anggota keluarga seperti saat ini".

"Selain itu...," lanjut Abah, (Abah saya memang suka menasehati & banyak bercerita tentang kehidupan ) "seorang perempuan jika bisa memasak maka saat ia berperan sebagai seorang istri, ia akan mampu menghemat pengeluaran keluarga. Tapi jika tidak mampu memasak dan hanya mengandalkan masakan yang dijual di warung, maka itu akan menyebabkan pengeluaran yang besar di keluarga".

Saat itu, saya menganggap Abah hanya sekedar berbicara (songong amat ya :D) tapi sungguh, hikmahnya saya sadari sekarang..., mari kita coba hitung misalnya, harga satu porsi masakan standar yang dijual di warung berkisar Rp 8000 – Rp. 15.000. Kita ambil harga pertengahan saja: Rp 10.000, maka bayangkan berapa anggaran dana yang dibutuhkan oleh satu keluarga dengan 3 orang anak untuk makan 3 kali dalam 1 hari yaitu 5 x 3 x Rp 10.000 = Rp 150.000 / hari. Dalam sebulan dibutuhkan dana sebesar Rp 150.000 x 30 hari = Rp. 4.500.000. Hanya untuk makan, angka tersebut termasuk cukup besar bukan? Untuk wanita yang cerdas dan bisa memasak, angka sebesar itu mungkin bisa dibelikan ke berbagai bahan mentah untuk membuat lebih banyak variasi masakan.., dan tentu saja untuk jangka waktu yang juga lebih lama 

Memang tidak kita pungkiri bahwa ada banyak keluarga dengan penghasilan yang besar, sehingga jumlah uang 4,5 juta untuk membeli makanan bagi mereka adalah kecil. Bahkan sebagian mampu menyediakan pembantu yang ditugaskan untuk memasak di rumah. Tidak ada yang salah dengan itu, hanya saja bagi saya mungkin ada kehangatan yang hilang di meja makan. Ketika masakan yang dibeli atau dimasak pembantu begitu enak, seorang suami atau anak-anak akan berkomentar, “wah masakan si Mbok enak banget ya ”. Akan terasa beda jika komentar yang muncul adalah, “wah masakan Ummi enak banget, besok masak lagi ya Mi ”. Terasa berbeda bukan? Cinta bisa lebih mekar salah satunya lewat masakan yang dihidangkan..., #justmyopinion
 
Lalu apakah kemampuan memasak bagi seorang perempuan itu adalah sebuah kerangka sosial yang terbentuk, atau memang kodrat seorang perempuan? Terlepas dari itu, bagi saya seorang perempuan perlu bisa memasak..., tidak harus mahir. Asin-asin sedikit tidak apalah, tetap akan masih dipuji oleh seorang suami yang beriman tidak sehebat koki pun tak masalah.., asal ada kemauan untuk terus belajar. Apalagi di zaman serba canggih, resep masakan apa saja tinggal cari di Google...., jangan pernah putus asa ketika ada gorengan yang hangus, tumisan yang hambar, gulai yang asin dan kehancuran fatal lainnya dalam memasak, itu semua biasa saja. Sungguh tidak ada kata terlambat untuk belajar, apalagi untuk belajar memasak. Belajarlah untuk membedakan mana jahe mana lengkuas, mana merica dan mana ketumbar, supaya tidak menjadi istri yang berguguran di dapur 

Lebih dari hidangan..., masakan adalah bahasa perasaan. Maka cita rasa tak semata hasil olah bumbu dan bahan. Ada rasa di balik rasa...., dan cinta adalah rahasia yang kuat dibalik rasa. :)
0

Romantisnya Seorang Anak

Image
Sekarang lagi trend topicnya di kalangan ummahat bagaimana kiat cara romantis kepada suami, oke saya tidak berbicara masalah itu (karena berhubung saya belum punya suami, hwehehe).  Back to topic, untuk akhowaat yang masih single maupun yang sudah double, terkadang kita akhowaat apalagi yang sedang berjuang untuk mempertahankan hijab syar’inya sering dilema (bahasa trendnya sekarang: galau). Terkadang air mata ini sudah tak tertahan lagi ketika orangtua sudah tidak mendukung kita dalam berjilbab syar’i, bercadar, bahkan dalam menuntut ilmu syar’i khawatir mengganggu dunia perkuliahan, nanti lulus kuliahnya lama, nanti susah dapat pekerjaan, dan lain sebagainya. Saya sering mendapatkan keluhan dari akhowat, tentang bagaimana jika orangtua kita tidak membolehkan kita berhijab syar’i, tidak boleh menuntut ilmu syar’i. Ada yang orangtuanya langsung menerima dengan anaknya seperti itu, ada juga orangtuanya yang bersifat kejawen, ada juga yang orangtuanya bersifat keras, ada juga yang orangtuanya sudah terkontaminasi dengan pemahaman lain, ada juga yang orangtuanya memberikan kebebasan kepada anaknya, ada juga yang orangtuanya mudah sekali untuk diajak, dan berbagai macam jenis orangtua yang sifatnya berbeda-beda.
Tiap orang punya kisahnya masing-masing dalam mempertahankan jilbab syar’inya atau menuntut ilmu syar’inya, mungkin ketika di kota nyaman yang seperti Jogja ini, kita yang mengenakan hijab syar’i menggunakan cadar atau berpakaian gelap-gelap bisa seenaknya saja, sebebasnya memakai pakaian seperti ini, kemudian menuntut ilmu syar’i bisa setiap hari, memang tidak ada kota senyaman di Jogja ini. Apalagi, alhamdulillaah –qadarullaah- Allah telah memberikan hidayah kepada kita untuk menapaki jalan salafush shalih, yaitu diberi hidayah ketika di bangku kuliah.
Kemudian ketika kita sudah mengenal manhaj yang haq ini, apakah kita menjauhi orangtua kita? Membid’ahkan orangtua kita? Karena pemahamannya bertentangan semuanya dengan orangtua kita?? Apakah para pendahulu kita mengajarkan seperti itu? Lihatlah akhlak salafush shalih mengajarkan bagaimana berbakti kepada kedua orangtua. Wahai saudariku, bagaimana kita bisa mengambil hati orangtua kita atau bagaimana bisa mendakwahkan kepada kedua orangtua kita, jika kita masih kaku, saklek, keras kepala dengan orangtua kita? Ada seni dalam berdakwah kepada kedua orangtua yaitu bersikaplah romantis dengan orangtua kita, bagaimana caranya?  Saya hanya ingin berbagi pengalaman saya saja:
  1. Ambil hati orangtua kita. Tanyakan kabarnya setiap hari (ya minimal tiga hari sekali), minimal lewat sms atau telepon setiap hari, Bagaimana kabar bunda/ayah? Udah makan belum? Lagi ngapain? Sisihkan uang kita untuk membeli pulsa, supaya bisa menelpon orangtua, syukur-syukur kalau orangtuanya yang menelepon setiap hari. Karena orangtua itu butuh perhatian kita sebagai anaknya, apalagi yang merantau ke negeri orang, dan perempuan lagi. Jadi, tunjukkan kasih sayang kita kepada orangtua. Sehingga orangtuapun merasa adem ayem ketika mendengar kabar, kalau anak-anaknya baek-baek aja. Orangtua itu hanya khawatir kalau anak-anaknya kenape-kenape.
  2. Kirim sms tausiyah setiap hari, tidak hanya teman-teman kita saja, yang kita sms tentang ayat-ayat Al-Qur’an, hadits atau faidah2 kajian, tapi keluarga, orangtua dan kerabat dekat sendiri jangan dilupain juga atuh. Semisal kalau ada hadits berisi puasa sunnah, kalau bisa ajak orangtua kita untuk bisa mengamalkannya, atau amalan-amalan sunnah yang lain. Kalau kita ingin masuk surga, ajaklah orangtua kita juga.
  3. Jangan sampai  mengecewakan orangtua kita, apalagi yang sedang berstatus mahasisiwi  (seperti saya merantau ke negeri Jogja), sering-sering mengabarkan aktivitas kita sehari-hari (update terusss). Ketika sudah mendapatkan kepercayaan dari orangtua, jangan sampai kita mengecewakan mereka, jaga nama baik dan kehormatan orangtua kita, bahagiakan mereka, buat senyum mereka, dan buatlah bangga untuk mereka.
  4. Ingat! Ridhonya orangtua adalah ridhonya Allah, ketika kita melangkah atau mengambil suatu keputusan, diskusikan terlebih dahulu ke orangtua, mau berhijab syar’i, mau ikut ma’had, mau ikut kajian, sampai jadwal kajian pun kalau perlu  kita kasih tahu ke orangtua kita, terutama untuk orangtua yang protektif banget, jadi insyaaAllah kalau orangtua sudah ridho, Allah akan mudahkan jalan kita untuk menuntut ilmu syar’i atau bisa mengamalkan sunnah-sunnah yang lain. Disini saya tidak mempermasalahkan dunia kampus ya, karena memang tujuan awal kita merantau ke negeri orang adalah menuntut ilmu dunia, jadi orangtua tidak mempermasalahkan.
  5. Ketika sedang di rumah (maksudnya di kampung halaman), tunjukkan bakti kita kepada orangtua kita. Misal dengan bantu beres-beres rumah, mengepel, mencuci, masak bareng dengan ibunda (itung-itung belajar jadi IRT).
  6. Diskusi dengan orangtua kita tentang permasalahan agama, arahkan kedua orangtua kita agar sesuai dengan apa yang disyari’atkan oleh Allah dan RasulNya. Tapi, usahakan jangan bersifat menggurui. Jadilah penerang di keluarga kita.
  7. Doakan selalu orangtua kita, semoga Allah senantiasa memberikan hidayah untuk bisa mengikuti manhaj yang haq ini, yang sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Karena yang hanya membolak-balikkan hati orangtua kita adalah Allah, hanya Dia yang berhak. Jangan putus asa, dan tetap doakan kedua orangtua kita.
  8. Bersabarlah, pasti ada halangan dan rintangannya, badai yang menerpa, cibiran orang lain ketika berdakwah kepada kedua orangtua kita, apalagi tinggal di desa kalau ada yang beda sedikit saja langsung jadi bahan omongan sekampung, karena kita pulkam dengan penampilan yang berbeda. Ingat! Ujian kita tidak seberat ujiannya para nabi, para rasul ataupun para pendahulu kita. Jadi, tetaplah memohon pertolongan kepada Allah dan janganlah takut. Semuanya butuh proses, tidak sekali, dua kali, bahkan sampai setahun, dua tahun atau bahkan sepuluh tahun bisa jadi dengan kesabaran kita yang selalu mendakwahkan kepada kedua orangtua kita, insyaaAllah –biidznillaah- Allah membukakan pintu hati kedua orangtua kita.
Baiklaah, ini sekelumit pengalaman pribadi seorang bocah yang baru belajar kemarin sore, monggo kalau mau dicoba^^. Semoga bermanfaat. Sayang Bunda, sayang Ayah..
Semoga kedua orangtua kita diberi hidayah oleh Allah dan dibukakan pintu hatinya oleh Allah untuk bisa menerima dan mengikuti manhaj yang haq ini…..,

- Dikaji bersama penghuni Qaanitah
0

Birrul Walidain

Banyak orang yang kala memandang orang tuanya yang sudah tua renta, maka yang terbayang adalah,

“Berapa banyak aku sudah memberikan kebahagiaan dunia kepadanya?”

Sedikit di antara kita yang apabila memandang wajah kedua orang tuanya, lalu berpikir,

“Ilmu akhirat apa yang telah aku ajarkan kepada mereka, sebagai balasan dari segala yang telah mereka berikan kepadaku?”
“Seberapa sering aku mengajak mereka untuk sama-sama bertakwa kepada Allah yang MahaKuasa?”


— Ustadz Kholid Syamhudi
0

Mutiara Salaf

Nikmat Membawa Petaka
Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata,
كُلُّ نِعْمَةٍ لا تُقَرِّبُ مِنَ اللهِ فَهِيَ بَلِيَّةٌ
“Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]

Tiga Pokok Keimanan
‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,
عَمَّارٌ ثَلاَثٌ مَنْ جَمَعَهُنَّ فَقَدْ جَمَعَ الإِيمَانَ الإِنْصَافُ مِنْ نَفْسِكَ ، وَبَذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ ، وَالإِنْفَاقُ مِنَ الإِقْتَارِ
“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Di Atas Sunnah Adalah yang Terbaik
Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu berkata,
اقْتِصَادٌ فِي سَنَةٍ خَيْرٌ مِنِ اجْتِهَادٍ فِي بِدْعَةٍ
“Hemat dalam suatu sunnah adalah lebih baik dari bersungguh-sungguh dalam suatu bid’ah.” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabarâny]

Ucapan ‘Saya Tidak Tahu’
Umar bin Al-Khaththab radhiyallâhu ‘anhu berkata,
الْعِلْمُ ثَلَاثَةٌ: كِتَابٌ نَاطِقٌ، وَسُنَّةٌ مَاضِيَةٌ، وَلَا أَدْرِيْ
“Ilmu ada tiga: Kitab (Al-Qur’an) yang berbicara, Sunnah (Nabi) yang terus berlaku, dan (upacan) ‘saya tidak tahu’.” [I’lamul Muwaqqi’in karya Ibnul Qayyim]

Yang Menghancurkan Agama
Dari Ziyâd bin Hudair, beliau berkata, Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepadaku, “Apakah engkau tahu apa yang menghancurkan (agama) Islam?” Saya menjawab, “Tidak.” Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,
يَهْدِمُهُ زَلَّةُ الْعَالِمِ، وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ، وَحُكْمُ الْأَئِمَّةِ الْمُضِلِّينَ
“(Agama Islam) dihancurkan oleh ketergelinciran seorang alim, jidal kaum munafiqin dengan Al-Qur’an, dan hukum para pemimpin yang sesat.” [Diriwayatkan oleh Ad-Darimy dan selainnya]

Hakikat Takwa
Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhumâ berkata,
لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ التَّقْوَى حَتَّى يَدَعَ مَا حَاكَ فِي الصَّدْرِ
“Tidaklah seorang hamba mencapai hakikat takwa hingga dia meninggalkan apa yang berseteru dalam hatinya.” [Disebutkan oleh Al-Bukhary dalam Shahihnya secara Mu’allaq]

Dari Bagian Keimanan
Abdullah bin Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu berkata,
الصَّبْرُ نِصْفُ الإِيمَانِ، وَالْيَقِينُ الإِيمَانُ كُلُّهُ
“Sabar adalah seperdua keimanan, dan Yakin adalah keimanan seluruhnya.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah dalam Tarikhnya sebagaimana dalam Taghlîq At-Ta’lîq, dan Al-Hakim]

Lisanku Ini yang Telah Menyeretku kepada Berbagai Prahara
Suatu hari, Umar bin Al-Khaththab radhiyallâhu ‘anhu masuk menjumpai Abu Bakr radhiyallâhu ‘anhu, dan Abu Bakr sedang menarik lisannya. Umar berkata, “Ada apa? Semoga Allah mengampunimu.” Abu Bakr menjawab,
إِنَّ هَذَا أَوْرَدَنِي الْمَوَارِدَ
“Sesungguhnya (lisan) ini telah menyeretku ke berbagai prahara.” [Diriwayatkan oleh Malik dalam Al-Muwaththa` dengan riwayat Yahya bin Yahya]

Rasa Malu di Kalangan Shahabat
Abu Bakr Ash-Shiqqîq radhiyallâhu ‘anhu berkhutbah kepada manusia,
يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، اسْتَحْيُوا مِنَ اللَّهِ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَظَلُّ حِينَ أَذْهَبُ إِلَى الْغَائِطِ فِي الْفَضَاءِ مُتَقَنِّعًا بِثَوْبِي اسْتِحْيَاءً مِنْ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ
“Wahai kaum muslimin sekalian, malulah kalian kepada Allah. Demi (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh saya pergi membuat hajat di tanah lapang (tempat membuang hajat) dalam keadaan berkudung baju karena malu kepada Rabbku ‘Azza wa Jalla.” [Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd]

Kalimat-kalimat Indah di awal Pemerintahan Abu Bakr
Setelah terangkat menjadi Khalifah, Abu Bakr Ash-Shiqqîq radhiyallahu ‘anhu berkhutbah,
“Amma Ba’du, Wahai sekalian manusia, sesungguhnya saya telah dijadikan pemimpin terhadap kalian, sedang saya bukan orang yang terbaik di antara kalian. Apabila saya berbuat baik, bantulah saya. Apabila saya berbuat jelek, luruskanlah saya. Kejujuran adalah amanah dan dusta adalah khiyanat. Orang yang lemah di tengah kalian adalah kuat di sisiku hingga saya memberikan haknya, insya Allah. Orang yang kuat di tengah kalian adalah lemah di sisiku hingga saya mengambil hak darinya, insya Allah. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah akan memukul mereka dengan kehinaan. Tidaklah suatu kekejian tersebar di suatu kaum kecuali Allah akan meratakan mereka dengan bala. Taatilah saya selama saya menaati Allah dan Rasul-Nya. Apabila saya bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya tidak ketaatan untukku terhadap kalian…” [Diriwayatkan oleh Ibnu Ishâq dalam As-Sîrah]

Nasihat Imam Asy-Syafi’iy kepada Muridnya, Imam Al-Muzany
Imam Al-Muzany bercerita:
“Aku menemui Imam Asy-Syafi’iy menjelang beliau wafat, lalu kubertanya, “Bagaimana keadaanmu pada pagi ini, wahai Ustadzku?”
Beliau menjawab, “Pagi ini aku akan melakukan perjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan kawan-kawanku, akan meneguk gelas kematian, akan menghadap kepada Allah dan akan menjumpai kejelekan amalanku. Aku tidak tahu: apakah diriku berjalan ke surga sehingga aku memberinya ucapan kegembiraan, atau berjalan ke neraka sehingga aku menghibur kesedihannya.”
Aku berkata, “Nasihatilah aku.”
Asy-Syafi’iy berpesan kepadaku, “Bertakwalah kepada Allah, permisalkanlah akhirat dalam hatimu, jadikanlah kematian antara kedua matamu, dan janganlah lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapan Allah. Takutlah terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, jauhilah segalah hal yang Dia haramkan, laksanakanlah segala perkara yang Dia wajibkan, dan hendaknya engkau bersama Allah di manapun engkau berada. Janganlah sekali-kali engkau menganggap kecil nikmat Allah kepadamu -walaupun nikmat itu sedikit- dan balaslah dengan bersyukur. Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, pembicaraanmu sebagai dzikir, dan pandanganmu sebagai pelajaran. Maafkanlah orang yang menzhalimimu, sambunglah (silaturrahmi dari)orang yang memutus silaturahmi terhadapmu, berbuat baiklah kepada siapapun yang berbuat jelek kepadamu, bersabarlah terhadap segala musibah, dan berlindunglah kepada Allah dari api neraka dengan ketakwaan.”
Aku berkata, “Tambahlah (nasihatmu) kepadaku.”
Beliau melanjutkan, “Hendaknya kejujuran adalah lisanmu, menepati janji adalah tiang tonggakmu, rahmat adalah buahmu, kesyukuran sebagai thaharahmu, kebenaran sebagai perniagaanmu, kasih sayang adalah perhiasanmu, kecerdikan adalah daya tangkapmu, ketaatan sebagai mata percaharianmu, ridha sebagai amanahmu, pemahaman adalah penglihatanmu, rasa harapan adalah kesabaranmu, rasa takut sebagai pakaianmu, shadaqah sebagai pelindungmu, dan zakat sebagai bentengmu. Jadikanlah rasa malu sebagai pemimpinmu, sifat tenang sebagai menterimu, tawakkal sebagai baju tamengmu, dunia sebagai penjaramu, dan kefakiran sebagai pembaringanmu. Jadikanlah kebenaran sebagai pemandumu, haji dan jihad sebagai tujuanmu, Al-Qur`an sebagai juru bicaramu dengan kejelasan, serta jadikanlah Allah sebagai Penyejukmu. Barangsiapa yang bersifat seperti ini, surga adalah tempat tinggalnya.”
Kemudian, Asy-Syafi’iy mengangkat pandangannya ke arah langit seraya menghadirkan susunan ta’bir. Lalu beliau bersya’ir,
Kepada-Mu -wahai Ilah segenap makhluk, wahai Pemilik anugerah dan kebaikan-
kuangkat harapanku, walaupun aku ini seorang yang bergelimang dosa
Tatkala hati telah membatu dan sempit segala jalanku
kujadikan harapan pengampunan-Mu sebagai tangga bagiku
Kurasa dosaku teramatlah besar, tetapi tatkala dosa-dosa itu
kubandingkan dengan maaf-Mu -wahai Rabb-ku-, ternyata maaf-Mu lebihlah besar
Terus menerus Engkau Maha Pemaaf dosa, dan terus menerus
Engkau memberi derma dan maaf sebagai nikmat dan pemuliaan
Andaikata bukan karena-Mu, tidak seorang pun ahli ibadah yang tersesat oleh Iblis
bagaimana tidak, sedang dia pernah menyesatkan kesayangan-Mu,Adam
Kalaulah Engkau memaafkan aku, Engkau telah memaafkan
seorang yang congkak, zhalim lagi sewenang-wenang yang masih terus berbuat dosa
Andaikata Engkau menyiksaku, tidaklah aku berputus asa,
walaupun diriku telah engkau masukkan ke dalam Jahannam lantaran dosaku
Dosaku sangatlah besar, dahulu dan sekarang,
namun maaf-Mu -wahai Maha Pemaaf- lebih tinggi dan lebih besar
[Tarikh Ibnu Asakir Juz 51 hal. 430-431]

Nasehat untuk Yang Meremehkan Dosa
Bilâl bin Sa’d rahimahullâh berkata,
لَا تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِ الْخَطِيئَةِ، وَلَكِنِ انْظُرْ مَنْ عَصَيْتَ
“Janganlah engkau melihat kepada kecilnya dosa, tetapi lihatlah terhadap siapa engkau bermaksiat.” [Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd]

Sabar Dalam Menuntut Ilmu
Dari Yahya bin Abi Katsîr rahimahullah, beliau berkata,
لَا يُسْتَطَاعُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجِسْمِ
“Ilmu itu tidaklah didapatkan dengan jasad yang santai.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Sebab yang Menurunkan dan Mengangkat Musibah
Dari Ali bin Abu Thalib radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata,
مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ وَلَا رُفِعَ بَلَاءٌ إِلَّا بِتَوْبَةٍ
“Tidaklah petaka turun, kecuali karena dosa, dan tidaklah petaka diangkat, kecuali dengan taubat.” [Ad-Dâ` wa Ad-Dawâ` hal. 118]

Musibah pada Kendaraan dan Istri Karena Maksiat
Berkata Al-Fudhail bin ‘Iyâdh,
إِنِّي لأَعْصِي اللَّهَ فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي وَجَارِيَتِي
“Sesunggunya aku bermaksiat kepada Allah, hal tersebut aku ketahui (pengaruh jeleknya) dari akhlak kendaraan dan istriku.” [Shaidul Khâthir karya Ibnul Jauzi dan Al-Jawâb Al-Kâfi karya Ibnul Qayyim]

Allah Menyiksamu Karena Menyalahi Sunnah
Imam Para Tabi’in, Sa’id bin Musayyab rahimahullah melihat seorang melakukan shalat sunnah dua raka’at setelah shalat subuh, kemudian Sa’id melarangnya. Orang tersebut berkata, “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah menyiksaku karena suatu shalat?!” Sa’id menjawab,
لَا وَلَكِنْ يُعَذِّبُكَ عَلَى خِلَافِ السُّنَّةِ
“Tidak, tapi Allah akan menyiksamu karena menyalahi sunnah.” [Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, Ad-Darimy dan Al-Baihaqy. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwâ` 2/236]

Di Antara Petaka Dosa
Ibnu Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,
إِنَّ لِلْحَسَنَةِ ضِيَاءً فِي الْوَجْهِ، وَنُورًا فِي الْقَلْبِ، وَسَعَةً فِي الرِّزْقِ، وَقُوَّةً فِي الْبَدَنِ، وَمَحَبَّةً فِي قُلُوبِ الْخَلْقِ، وَإِنَّ لِلسَّيِّئَةِ سَوَادًا فِي الْوَجْهِ، وَظُلْمَةً فِي الْقَبْرِ وَالْقَلْبِ، وَوَهْنًا فِي الْبَدَنِ، وَنَقْصًا فِي الرِّزْقِ، وَبُغْضَةً فِي قُلُوبِ الْخَلْقِ
“Sesungguhnya pada kebaikan terdapat sinar pada wajah, cahaya dalam hati, kelapangan dalam rezeki, kekuatan pada badan, dan kecintaan pada hati makhluk. Sesungguhnya pada kejelekan terdapat kegelapan pada wajah, gulita pada alam kubur dan hati, kelemahan pada badan, kekurangan dalam rezeki, dan kebencian pada hati makhluk.” [Al-Jawâb Al-Kâfy hal. 62]

Takwa adalah Jalan Keselamatan dari Fitnah
Dalam menghadapi fitnah, Thalq bin Habib menasihatkan agar berlindung dengan ketakwaan. Ketika ditanya, “Apa takwa itu?” Beliau menjawab,
العَمَلُ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكُ مَعَاصِي اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ
“Takwa adalah beramal ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah, mengharap rahmat Allah, dan meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah, takut akan siksaan Allah.” (Siyâr A’lam An-Nubalâ` dan selainnya)

Keberkahan Pada Ucapan Ulama Salaf
Ditanyakan kepada Hamdûn bin Ahmad Al-Qashshâr, “Mengapa ucapan para salaf lebih bermanfaat dari ucapan kita?”
Hamdûn menjawab, “Karena mereka berbicara untuk keagungan Islam, keselamatan jiwa-jiwa (manusia), dan (meraih) ridha Ar-Rahman. Sedang kita berbicara untuk kemulian diri sendiri, mencari dunia, dan penerimaan manusia.” [Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam Al-Hilyah dan Al-Baihaqy dalam Syu’abul Îmân]

Panah-Panah Kematian
Ketika Khalifah Harun Ar-Rasyid memintah nasihat ringkas, Abul ‘Atâhiyah menasihatinya dalam beberapa untaian syair,
لَا تَأْمَنِ الْمَوْتَ فِيْ طَرْفٍ وَلَا نَفَسٍ وَلَوْ تَمَنَّعْتَ بِالْحِجَابِ وَالْحَرَسِ
وَاعْلَمْ بَأَنَّ سِهَامَ الْمَوْتِ قَاصِدَةٌ لِكُلِّ مَدَرَّعٍ مِنَّا وَمُتَرَّسِ
تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا إِنَّ السَّفِيْنَةَ لَا تَجْرِيْ عَلَى الْيَبَسِ
“Janganlah merasa aman dari kematian dalam sekejam maupun senafas
walaupun engkau berlindung dengan tirai dan para pengawal.
Ketahuilah bahwa panah-panah kematian selalu membidik
setiap dari kita, yang berbaju besi maupun yang berperisai.
Engkau menghendaki keselamatan, sedang engkau tidak menempuh jalan-jalannya,
sesungguhnya perahu tidak akan berjalan di atas daratan kering.”
[Raudhatul ‘Uqalâ` karya Ibnu Hibban hal. 285]

Sunnah Allah Pada Suatu Kebenaran
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
وَالْحَقُّ مَنْصُوْرٌ وَمُمْتَحَنٌ فَلَا
تَعْجَبْ فَهَذِيْ سُنَّةُ الرَّحْمَانِ
“Kebenaran itu akan selalu menang dan mendapat ujian, maka janganlah
heran, sebab ini adalah sunnah Ar-Rahman (sunnatullah).”
[Al-Kâfiyah Asy-Syâfiyah 1/52 (Syarah Syaikh Shalih Al-Fauzan)]

Cara Mengenal Pendusta
Harun bin Sufyân Al-Mustamly bertanya kepada Imam Ahmad, “Bagaimana cara engkau mengetahui para pendusta?” Imam Ahmad menjawab, “Dengan (melihat) janji-janji mereka.”
[Dirwayatkan oleh Ibnu ‘Ady dalam Al-Kamil dan As-Sam’âny dalam Adabul Imlâ`]

Juallah Dia, Walaupun Hanya dengan Harga Segenggam Debu
Muhammad bin Abdillah Al-Baghdâdy bersenandung,
إِذَا مَا الْمَرْءُ أَخْطَأَهُ ثَلَاثٌ فَبِعْهُ وَلَوْ بِكَفٍّ مِنْ رَمَادِ
سَلَامَةُ صَدْرِهِ وَالصِّدْقُ مِنْهُ وَكِتْمَانُ السَّرَائِرِ فِي الْفُؤَادِ
“Apabila seorang kehilangan tiga (sifat),
Juallah dia, walaupun hanya dengan harga segenggam debu.
(Tiga sifat itu adalah) keselamatan hati, kejujuran jiwa,
dan menyembunyikan rahasia (orang lain) di dalam hati.”
[Raudhatul ‘Uqalâ` karya Ibnu Hibban hal. 53]

Mengukur Keikhlasan
Muhammad bin Abdawaih berkata, Saya mendengar Al-Fudhail bin ‘Iyâdh rahimahullah berkata,
تَرْكُ الْعَمَلِ مِنْ أَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ وَالْعَمَلُ مِنْ أَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ وَالْإِخْلَاصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللهُ عَنْهُمَا
“Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya`, dan beramal karena manusia adalah kesyirikan. Ikhlas adalah Allah menyelamatkan engkau dari dua perkara tersebut.”
[Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Ibnu Asâkir, sebagaimana dalam kitab Al-Âtsâr Al-Wâridah ‘Anil Aimmah fi Abwâbil I’tiqâd 1/159]

Hakikat Kehidupan Hamba
Al-Marrudzy berkata, “Suatu hari aku masuk menjumpai (Imam) Ahmad, lalu saya bertanya, ‘Bagaimana engkau di pagi ini?’ Beliau menjawab, ‘Aku masuk di waktu pagi dalam keadaan Rabbku menuntut (diriku) untuk menunaikan kewajiban, Nabi-Nya menuntutnya untuk menunaikan sunnah, dua malaikat menuntutnya untuk memperbaiki amalan, jiwanya menuntut (mengikuti) hawa nafsu, Iblis menuntutnya untuk kekejian, Malakul Maut menuntut nyawanya, dan keluarganya menuntut nafkah.’.”
[Thabaqat Al-Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’lâ 1/570, dengan perantara kitab Kasykûl karya guru kami, Syaikh Abdul Aziz Ibnu Aqil]

Oleh: Ust. Dzulqarnain
0

Taman Surga

Jangan ikuti kebanyakan orang, Karena banyak itu bukan tanda kebenaran...
Jangan Malu berbeda dengan kebanyakan orang, Asalkan yang kita lakukan adalah kebenaran...
Kita tidak akan ditanya mengapa kita menyelisihi banyak orang, Namun kita akan ditanya Mengapa kita menyelisihi Satu Orang (yaitu Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam).

- Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwas
0