Sekarang lagi trend topicnya di kalangan ummahat bagaimana kiat cara romantis kepada suami, oke saya tidak berbicara masalah itu (karena berhubung saya belum punya suami, hwehehe). Back to topic, untuk akhowaat yang masih single maupun yang sudah double, terkadang kita akhowaat apalagi yang sedang berjuang untuk mempertahankan hijab syar’inya sering dilema (bahasa trendnya sekarang: galau). Terkadang air mata ini sudah tak tertahan lagi ketika orangtua sudah tidak mendukung kita dalam berjilbab syar’i, bercadar, bahkan dalam menuntut ilmu syar’i khawatir mengganggu dunia perkuliahan, nanti lulus kuliahnya lama, nanti susah dapat pekerjaan, dan lain sebagainya. Saya sering mendapatkan keluhan dari akhowat, tentang bagaimana jika orangtua kita tidak membolehkan kita berhijab syar’i, tidak boleh menuntut ilmu syar’i. Ada yang orangtuanya langsung menerima dengan anaknya seperti itu, ada juga orangtuanya yang bersifat kejawen, ada juga yang orangtuanya bersifat keras, ada juga yang orangtuanya sudah terkontaminasi dengan pemahaman lain, ada juga yang orangtuanya memberikan kebebasan kepada anaknya, ada juga yang orangtuanya mudah sekali untuk diajak, dan berbagai macam jenis orangtua yang sifatnya berbeda-beda.
Tiap orang punya kisahnya masing-masing dalam mempertahankan jilbab syar’inya atau menuntut ilmu syar’inya, mungkin ketika di kota nyaman yang seperti Jogja ini, kita yang mengenakan hijab syar’i menggunakan cadar atau berpakaian gelap-gelap bisa seenaknya saja, sebebasnya memakai pakaian seperti ini, kemudian menuntut ilmu syar’i bisa setiap hari, memang tidak ada kota senyaman di Jogja ini. Apalagi, alhamdulillaah –qadarullaah- Allah telah memberikan hidayah kepada kita untuk menapaki jalan salafush shalih, yaitu diberi hidayah ketika di bangku kuliah.
Kemudian ketika kita sudah mengenal manhaj yang haq ini, apakah kita menjauhi orangtua kita? Membid’ahkan orangtua kita? Karena pemahamannya bertentangan semuanya dengan orangtua kita?? Apakah para pendahulu kita mengajarkan seperti itu? Lihatlah akhlak salafush shalih mengajarkan bagaimana berbakti kepada kedua orangtua. Wahai saudariku, bagaimana kita bisa mengambil hati orangtua kita atau bagaimana bisa mendakwahkan kepada kedua orangtua kita, jika kita masih kaku, saklek, keras kepala dengan orangtua kita? Ada seni dalam berdakwah kepada kedua orangtua yaitu bersikaplah romantis dengan orangtua kita, bagaimana caranya? Saya hanya ingin berbagi pengalaman saya saja:
- Ambil hati orangtua kita. Tanyakan kabarnya setiap hari (ya minimal tiga hari sekali), minimal lewat sms atau telepon setiap hari, Bagaimana kabar bunda/ayah? Udah makan belum? Lagi ngapain? Sisihkan uang kita untuk membeli pulsa, supaya bisa menelpon orangtua, syukur-syukur kalau orangtuanya yang menelepon setiap hari. Karena orangtua itu butuh perhatian kita sebagai anaknya, apalagi yang merantau ke negeri orang, dan perempuan lagi. Jadi, tunjukkan kasih sayang kita kepada orangtua. Sehingga orangtuapun merasa adem ayem ketika mendengar kabar, kalau anak-anaknya baek-baek aja. Orangtua itu hanya khawatir kalau anak-anaknya kenape-kenape.
- Kirim sms tausiyah setiap hari, tidak hanya teman-teman kita saja, yang kita sms tentang ayat-ayat Al-Qur’an, hadits atau faidah2 kajian, tapi keluarga, orangtua dan kerabat dekat sendiri jangan dilupain juga atuh. Semisal kalau ada hadits berisi puasa sunnah, kalau bisa ajak orangtua kita untuk bisa mengamalkannya, atau amalan-amalan sunnah yang lain. Kalau kita ingin masuk surga, ajaklah orangtua kita juga.
- Jangan sampai mengecewakan orangtua kita, apalagi yang sedang berstatus mahasisiwi (seperti saya merantau ke negeri Jogja), sering-sering mengabarkan aktivitas kita sehari-hari (update terusss). Ketika sudah mendapatkan kepercayaan dari orangtua, jangan sampai kita mengecewakan mereka, jaga nama baik dan kehormatan orangtua kita, bahagiakan mereka, buat senyum mereka, dan buatlah bangga untuk mereka.
- Ingat! Ridhonya orangtua adalah ridhonya Allah, ketika kita melangkah atau mengambil suatu keputusan, diskusikan terlebih dahulu ke orangtua, mau berhijab syar’i, mau ikut ma’had, mau ikut kajian, sampai jadwal kajian pun kalau perlu kita kasih tahu ke orangtua kita, terutama untuk orangtua yang protektif banget, jadi insyaaAllah kalau orangtua sudah ridho, Allah akan mudahkan jalan kita untuk menuntut ilmu syar’i atau bisa mengamalkan sunnah-sunnah yang lain. Disini saya tidak mempermasalahkan dunia kampus ya, karena memang tujuan awal kita merantau ke negeri orang adalah menuntut ilmu dunia, jadi orangtua tidak mempermasalahkan.
- Ketika sedang di rumah (maksudnya di kampung halaman), tunjukkan bakti kita kepada orangtua kita. Misal dengan bantu beres-beres rumah, mengepel, mencuci, masak bareng dengan ibunda (itung-itung belajar jadi IRT).
- Diskusi dengan orangtua kita tentang permasalahan agama, arahkan kedua orangtua kita agar sesuai dengan apa yang disyari’atkan oleh Allah dan RasulNya. Tapi, usahakan jangan bersifat menggurui. Jadilah penerang di keluarga kita.
- Doakan selalu orangtua kita, semoga Allah senantiasa memberikan hidayah untuk bisa mengikuti manhaj yang haq ini, yang sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Karena yang hanya membolak-balikkan hati orangtua kita adalah Allah, hanya Dia yang berhak. Jangan putus asa, dan tetap doakan kedua orangtua kita.
- Bersabarlah, pasti ada halangan dan rintangannya, badai yang menerpa, cibiran orang lain ketika berdakwah kepada kedua orangtua kita, apalagi tinggal di desa kalau ada yang beda sedikit saja langsung jadi bahan omongan sekampung, karena kita pulkam dengan penampilan yang berbeda. Ingat! Ujian kita tidak seberat ujiannya para nabi, para rasul ataupun para pendahulu kita. Jadi, tetaplah memohon pertolongan kepada Allah dan janganlah takut. Semuanya butuh proses, tidak sekali, dua kali, bahkan sampai setahun, dua tahun atau bahkan sepuluh tahun bisa jadi dengan kesabaran kita yang selalu mendakwahkan kepada kedua orangtua kita, insyaaAllah –biidznillaah- Allah membukakan pintu hati kedua orangtua kita.
Baiklaah, ini sekelumit pengalaman pribadi seorang bocah yang baru belajar kemarin sore, monggo kalau mau dicoba^^. Semoga bermanfaat. Sayang Bunda, sayang Ayah..
Semoga kedua orangtua kita diberi hidayah oleh Allah dan dibukakan pintu hatinya oleh Allah untuk bisa menerima dan mengikuti manhaj yang haq ini…..,
- Dikaji bersama penghuni Qaanitah

0 comments:
Post a Comment