Saya masih ingat betul, setiap saya pulang sekolah dulu, teriakan kedua setelah salam ketika masuk rumah adalah: " Mi, masak apa hari ini ? ". Masakan khas Ummi bagi saya memang memiliki daya tarik tersendiri. Ada hal irasional yang mampu memperkuat cita rasa apapun yang dimasak Ummi. Tak heran, dulu saya hanya mau makan sayur yang dibuat Ummi..., diluar itu bukan perkara mudah bagi saya untuk mau makan sayuran. Melihat dari sosok Ummi, dulu saya berpikir bahwa semua ibu tentunya pintar memasak...., memasak seolah menjadi pekerjaan yang identik dengan kaum perempuan. Namun semakin beranjak dewasa, saya menemui kenyataan bahwa tidak semua perempuan mahir memasak.., bahkan sebagian dari mereka memang tidak menyukai bidang itu.
Tentunya ada banyak alasan mengapa sebagian wanita tidak suka memasak..., mulai dari ketidakmampuannya di bidang tersebut, lebih baik mengerjakan hal lain yang lebih produktif, kesetaraan gender, bahkan hingga tidak adanya aturan yang tertuang dalam Al-Quran dan Hadist mengenai perkara tersebut. Mengenai alasan ini, tak perlulah kita memperdebatkan karena bukan itu tujuan dibuatnya tulisan ini.
Keahlian dalam memasak bagi saya adalah pembeda yang unik.., ia adalah salah satu magnet yang mendekatkan seorang suami dengan rumahnya..., (terinspirasi dari Ummi & Abah). Ba'da Magrib ketika asyik makan bersama Abah bilang: "meskipun Abah menemukan banyak makanan yang terlihat enak di luar, Abah tetap akan lebih menyukai masakan yang ada di rumah. Karena Abah mengetahui siapa yang memasaknya, mengetahui akan kebersihannya dan mengetahui dengan uang apa itu semua dibeli. perempuan yang mampu memasak jika telah berkeluarga maka ia akan menjadi perekat di keluarganya, ia menjadi faktor yang membahagiakan suami dan anak-anak melalui masakan yang dibuat. Dengan masakan tersebut, keluarga dapat bercengkrama bersama menikmati hidangan yang disajikan. Saat berkumpul itulah timbul kedekatan-kedekatan di antara anggota-anggota keluarga seperti saat ini".
"Selain itu...," lanjut Abah, (Abah saya memang suka menasehati & banyak bercerita tentang kehidupan ) "seorang perempuan jika bisa memasak maka saat ia berperan sebagai seorang istri, ia akan mampu menghemat pengeluaran keluarga. Tapi jika tidak mampu memasak dan hanya mengandalkan masakan yang dijual di warung, maka itu akan menyebabkan pengeluaran yang besar di keluarga".
Saat itu, saya menganggap Abah hanya sekedar berbicara (songong amat ya :D) tapi sungguh, hikmahnya saya sadari sekarang..., mari kita coba hitung misalnya, harga satu porsi masakan standar yang dijual di warung berkisar Rp 8000 – Rp. 15.000. Kita ambil harga pertengahan saja: Rp 10.000, maka bayangkan berapa anggaran dana yang dibutuhkan oleh satu keluarga dengan 3 orang anak untuk makan 3 kali dalam 1 hari yaitu 5 x 3 x Rp 10.000 = Rp 150.000 / hari. Dalam sebulan dibutuhkan dana sebesar Rp 150.000 x 30 hari = Rp. 4.500.000. Hanya untuk makan, angka tersebut termasuk cukup besar bukan? Untuk wanita yang cerdas dan bisa memasak, angka sebesar itu mungkin bisa dibelikan ke berbagai bahan mentah untuk membuat lebih banyak variasi masakan.., dan tentu saja untuk jangka waktu yang juga lebih lama
Memang tidak kita pungkiri bahwa ada banyak keluarga dengan penghasilan yang besar, sehingga jumlah uang 4,5 juta untuk membeli makanan bagi mereka adalah kecil. Bahkan sebagian mampu menyediakan pembantu yang ditugaskan untuk memasak di rumah. Tidak ada yang salah dengan itu, hanya saja bagi saya mungkin ada kehangatan yang hilang di meja makan. Ketika masakan yang dibeli atau dimasak pembantu begitu enak, seorang suami atau anak-anak akan berkomentar, “wah masakan si Mbok enak banget ya ”. Akan terasa beda jika komentar yang muncul adalah, “wah masakan Ummi enak banget, besok masak lagi ya Mi ”. Terasa berbeda bukan? Cinta bisa lebih mekar salah satunya lewat masakan yang dihidangkan..., #justmyopinion
Lalu apakah kemampuan memasak bagi seorang perempuan itu adalah sebuah kerangka sosial yang terbentuk, atau memang kodrat seorang perempuan? Terlepas dari itu, bagi saya seorang perempuan perlu bisa memasak..., tidak harus mahir. Asin-asin sedikit tidak apalah, tetap akan masih dipuji oleh seorang suami yang beriman tidak sehebat koki pun tak masalah.., asal ada kemauan untuk terus belajar. Apalagi di zaman serba canggih, resep masakan apa saja tinggal cari di Google...., jangan pernah putus asa ketika ada gorengan yang hangus, tumisan yang hambar, gulai yang asin dan kehancuran fatal lainnya dalam memasak, itu semua biasa saja. Sungguh tidak ada kata terlambat untuk belajar, apalagi untuk belajar memasak. Belajarlah untuk membedakan mana jahe mana lengkuas, mana merica dan mana ketumbar, supaya tidak menjadi istri yang berguguran di dapur
Lebih dari hidangan..., masakan adalah bahasa perasaan. Maka cita rasa tak semata hasil olah bumbu dan bahan. Ada rasa di balik rasa...., dan cinta adalah rahasia yang kuat dibalik rasa. :)
0 comments:
Post a Comment