Ada orang yang belajar untuk mencari hasil akhir (nanti jadi apa, dikenal sebagai apa, dll) & ada orang yang belajar karena menikmati ilmu itu sendiri.
Jika dalam ranah ilmu dunia, maka tipe 1 akan punya "degree minded" sekali atau "position minded" (professor, boss, etc). Sedangkan tipe 2 dalam ilmu dunia akan berpikir bagaimana saya bisa kompeten dalam ilmu, apa kontribusinya dalam mengembangkan ilmu.
Saya teringat pada tahun 2012 lalu, saya mengucapkan selamat kepada pembimbing akademik dan skripsi saya, Pak Terry Mart, di Fisika UI. Pasalnya, karena saat itu beliau diangkat sebagai guru besar Fisika UI. Maka, saya kirim email dari US kepada beliau atas pencapaian ini. Namun beliau berkata, "Sudahkah kamu lupa dengan apa yang saya ajarkan, Andy? Ini tidak penting. Yang penting adalah kompetensi dan kontribusi."
Bahkan beliau merasa seremonial guru besar di UI tersebut merupakan penghalang bagi beliau untuk mengerjakan riset di hari itu!
Inilah ilmuwan sejati. Beliau lebih menyukai ilmu daripada gegap gempita posisi dan popularitas.
Dalam ranah ilmu agama, maka tipe 1 akan berkata pada orang yang ingin belajar agama: "Tidak semua orang harus jadi ustadz!"
Apa-apa yang ditimbang adalah profesi hasil akhirnya. "Nanti jadi apa," itulah yg orang-orang tipe 1 hanya bisa pikirkan di benaknya.
Sedangkan tipe 2 akan berkata, "Kami menimba ilmu agama karena kami mencintai ilmu tersebut. Kami tidak tenang jika dalam periode waktu tertentu, kami tidak bersentuhan dengan indahnya ilmu dan manisnya menimba ilmu. Yang kami tuju adalah kompetensi dan kontribusi."
Dalam bahasa para ulama', yang ingin dituju oleh orang2 tipe 2 adalah malakah 'ilmiyyah, yang bermakna kompetensi atas suatu ilmu.
Maka orang2 tipe 1 tidak akan memahami orang2 tipe 2, karena memang mereka memiliki standar yang berbeda dalam melihat sesuatu.
Sehingga, jangan heran jika kita melihat adanya perbedaan pendapat antara dua tipe ini dalam kehidupan sehari-hari. Silahkan memilih mana yang ingin anda jalani. Setiap orang berhak memilih mana jalan yang ingin dia pilih asal masih dalam koridor kebenaran.
- Kak Andy Octavian
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment