Saya setuju dengan kata-kata yang isinya…, “Cinta sejati, cinta yang ketika kita kira sudah pergi, ternyata hanya bersembunyi, menunggu saatnya kembali lagi…..,”. Sebuah kata-kata indah yang penuh dengan arti yang sangat dalam, sungguh, kalau mau ditelusuri dan diperhatikan, ini selaras dengan “First love will never end…, ”, cinta pertama paling mengesankan, meskipun setelah itu datang ribuan cinta, tapi yang pertama tetap paling mengesankan!
Zaki namanya, ya Muhammad Zaki al-Islami, asalnya Majalengka, tapi pernah tinggal di Cirebon, ibunya jadi kepala RSU di sana. Zaki biasanya dipanggil teman-teman Iki, mahasiswa semester terakhir universitas Damascus, jurusan Ekonomi Islam, Iki juga terdaftar di univesitas Baats, jurusan Sastra dan Kebudayaan Timur-Tengah, juga semester terakhir. Iki termasuk mahasiswa yang aktif di mana-mana, meskipun kesibukan kuliahnya nggak bisa diajak kompromi. Kemurahan senyumnya itu yang bikin semua teman-teman betah berada di samping dia, nggak terkecuali para mahasisiwi yang caper pura-pura tanya pelajaran atau minjam rekaman presentasi Dosen. Tapi Iki tetaplah Iki yang kalem, nggak sombong, biarpun agak cuek sedikit sama cewek, baik dan yang pasti nggak pelit, kalau naik bus sama dia, uang 10 ribu yang seharusnya buat ongkos bisa tetap aman di saku, karena Iki nggak bakal ngijinin ada temannya yang bayarin dia. Kata teman-teman dia keturunan Rasulullah alias Ahlul Bait, jadi nggak bisa menerima sumbangan dari orang. (Sebenarnya menurut saya sah-sah saja sih hee..., menerima sumbangan biarpun dia keturunan Rasul, zaman dulu keluarga Rasul nggak menerima sedekah dan zakat karena mereka mendapat hak khumus (seperlima) dari rampasan perang, hari ini kan khumus itu nggak ada lagi, jadi hukum itu bisa saja berubah seiring berubahnya zaman, selama hukum itu bukan qot’i (permanent yang berdasarkan nash kitab dan sunnah yang sharih). Dan menurut mayoritas ulama mereka boleh saja menerima sumbangan selain zakat, seperti yang disebutkan ustadzuna Dr.Zuhaily dalam Fiqh Islamy-nya, namun DR.Qordhowy dalam disertasinya yang legendaris itu "Fiqh Zakat" membolehkan mereka menerima zakat itu hari ini). Iki tetap Iki, sekilas orang akan melihat Iki adalah mahasiswa paling beruntung di Damascus, tampang oke, prestasi akademisnya di atas rata-rata, di lapangan juga jago, untuk top scorer tahun 2014 lomba sepak bola 17 agustus-an masih di tangan Iki, ini tahun ke tiga dia mempertahankan prestasi itu. Tapi kalau bicara masalah cinta dan pacaran, Iki nggak seberuntung Habibie dan Ainun, bahkan lebih menyedihkan dari Rama dan Shinta, meskipun nggak setragis Romeo dan Juliet!
Mungkin sudah jadi trend ya masa puber dimulai dengan pacaran dan tumbuhnya jerawat Asmara di pipi dan hidung, he…., itu kata anak-anak muda yang lagi kenalan dengan cewek dan madly in love. Kalau baru jadian dapat jerawat di muka, tapi kalau habis break up dapat hati yang patah. eh..., patah hati ding :D
Iki menghabiskan SMP nya di kota Majalengka, di sana dia kenalan sama Nada Khoerunnisa, cewek cantik yang memikat hatinya. Tapi itu bukan orang pertama yang hadir dalam hidupnya, ada seorang gadis bernama Mega Fatiha yang mampir di hatinya, namun ya sekedar mampir..., Iki just clap with one hand, tapi Nada datang menggantikan posisi Mega. Singkat cerita mereka lulus dari SMP 1, Nada dan Mega masuk SMU yang Sama, sedangkan Iki anak mantan Pangdam 1/BB, Mayjen Hasan Al-Banna, dipaksa orang tuanya masuk pesantren. Kakak laki-laki Iki sekarang menjadi kapolres di Majalengka, kakak perempuannya wakil kepala RSU di kodya Cirebon. Dan Iki anak bungsu yang menjadi harapan orang tuanya menjadi ustadz akhirnya dimasukkan ke pondok pesantren Gontor, Ponorogo.
Cinta emang nggak kenal ruang dan waktu, jauh di mata dekat di hati. Hubungan antara Iki dengan Nada tambah mesra saja. Perlu diketahui bahwa Iki bisa mendapatkan hati Nada setelah 7 kali ditolak! Dan itu dalam tempo 5 minggu! Mengutip kata-kata Iki, “Harga diri ku belum pernah diinjak-injak kecuali oleh Nada, tapi akhirnya aku bisa menakhlukkah mahligai cintanya. Aku tahu dengan apa yang kulakukan itu sekan-akan aku mengemis cinta, tapi Nada mengatakan bahwa dia hanya ingin mencoba aku, apa benar motto ku yang pernah ku katakan padanya hanya bualan atau benar-benar motto cintaku…., kehilangan harga diri karena cinta lebih baik dari pada kehilangan cinta karena harga diri…,”
Akhirnya, setelah 4 tahun di penjara, Iki lulus dengan nilai mumtaz (cumlaude), tapi karena surat Nada pernah ketahuan sama pengasuhan santri, akhirnya nama Iki tercantum dalam black list, dan itu yang menghalangi dia mendapat pengabdian di Gontor 1, Iki terpaksa dikirim ke Gontor 7 di Kendari Sulawesi Tenggara sebagai tempat pengabdiannya selama setahun. Jauh dari hutan sana, cinta Iki selalu menyapa Nada yang hari itu sudah tercatat sebagai mahasiswi semester 4 fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kata Iki, hanya satu titik yang ada sinyal Mentari atau Simpati di pondok Gontor 7..., tepatnya di belakang rumah pengasuh pondok, dari sanalah SMS cinta menyebar ke seluruh nusantara, karena bukan hanya Iki saja di sana, tapi banyak teman-teman lain juga yang bernasib dan berprofesi sama.
Setelah setahun mengabdi di Gontor 7, Iki pulang dan mengikuti kemauan sang ayah untuk kedua kalinya. Ayahnya mempunyai teman yang mengurus keberangkatannya ke luar negeri, Damascus menjadi pilihan ayahnya. Kota kuno yang penuh dengan ulama yang moderat dan penuh toleransi, di samping peradaban yang maha tinggi. Konon ayahnya pernah bertugas di sana selama dua bulan ketika terjadi perang antara Suriah dan Israel memperebutkan dataran tinggi Golan tahun 1973. Kayaknya pak Hasan tertarik dengan kecantikan gadis-gadis Suriah, makanya pengen punya menantu dari sana. Kalau saja saat itu pak Hasan belum melamar Bu Yanti, ibunya Iki, mungkin pak Hasan sudah menikahi salah satu gadis Suriah.
Untuk kesekian kalinya hati Nada terluka dan kecewa, seakan Iki semakin jauh darinya, sejak SMP sama-sama, Iki pindah ke Jawa, dari Jawa Iki pindah ke Sulawesi, sekarang Iki akan pergi ke Suriah. Cobaan bagi Nada, kesetiaannya diuji, namun Nada emang bukan cewek pengobral cinta, meskipun Iki bukan orang pertama yang hadir menghiasi hatinya, tapi Nada tidak bisa diganggu, seperti halnya Nada bagi Iki, bukan yang pertama, namun dua anak manusia itu telah berjanji untuk saling setia. Sedikit demi sedikit cinta monyet mereka naik tingkatan menjadi cinta orang hutan dan akhirnya menjadi cinta gorilla yang lebih gede…, hehe
Setelah Iki tiba di Damascus, seakan Iki memasuki dunia baru, hari-harinya bergelut dengan buku-buku, dari habis ashar sampai isya waktunya dihabiskan bersama ulama-ulama di masjid besar Bani Umayyah Damascus. Siraman rohani syeikh Rajab Deeb, tokoh sufi besar di Damascus, pengajian DR.Bouty, ulama serba bisa tingkat internasional, wejangan DR.Zuhaily, Syeikh Usamah dan nasehat-nasehat Syeikh Naiem Araksusy membuat mata hati Iki semakin bisa melihat. Sedikit demi sedikit hatinya mulai bertanya…., apa yang seharusnya kamu lakukan dan seharusnya kamu tinggalkan? Apa prioritas hidup kamu? Kenapa kamu begini? Kenapa kamu membuang-buang pikiran untuk memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak dipikirkan?…, apa…., kenapa….,
Sudah dua tahun Iki di Damascus, hubungannya dengan Nada seperti biasa, bahkan kadang-kadang Nada yang kini hampir menyelesaikan skripsinya mulai menyinggung masalah yang lebih serius. Tapi itu semua dianggap canda oleh Iki. Namun Iki dua tahun terakhir bukan Iki yang dulu. Dengan terpaksa dia memutuskan hubungan yang telah terjalin lama dengan Nada melalui surat yang dikirim ke Indonesia.
Surat Iki yang singkat itu mungkin akan menghancurkan hati Nada, tapi itulah kenyataan yang harus diputuskan dan diterima.
Dari Muhammad Zaki al-Islami, Damascus
Kepada yang tercinta Nada Khoerunnisa, Yogyakarta
Dalam sebuah riwayat dikatakan, ketika Ummu Darda' ditanya tentang amalan apa yang paling banyak dilakukan Al-shohabi Al-jalil Abu Darda' RA? Ummu Darda' berkata: "Hal yang paling banyak dilakukan Abu Darda' adalah bertafakkur dan menginstrospeksi diri". Shahabi Abu Darda' bisa duduk berjam-jam bertafakkur dan berzikir menghayati ciptaan Allah, dengan itu beliau mendapatkan ketenangan jiwa dan keimanan yang kuat, karena hanya dengan berfikir dan menganalisa alam kita bisa memperkuat Iman pada Allah. Sayyidina Umar RA berkata:
“Hitunglah amalanmu sebelum Dihitung (akhirat)".
Kita kan sama-sama tidak tahu kapan ajal datang menjemput, bisa saja sebelum atau sesudah membaca Surat ini kita disamperin malaikat maut, sebelum kita sempat bertaubat minta ampun pada Allah SWT....., Rasulullah saw, bertaubat 100 kali setiap hari, beliau adalah orang pertama yang masuk surga, karena tidak akan dibuka pintu surga sebelum beliau masuk (al-Hadist), tapi dengan jaminan itu beliau tetap bersyukur dan bertaubat 100 kali setiap hari! Bagaimana dengan kita wahai hamba Allah yang belum jelas juntrungannya...., ?
Akhir-akhir ini saya sering berfikir, bertanya pada diri sendiri, apa yang telah kita lakukan selama ini? Mungkin bukan kita, tepatnya saya pribadi! Saya pergi jauh-jauh ke negeri para Rasul dan Aulia untuk belajar Ilmu Agama dan mencari siapa sebenarnya saya ini? Untuk apa saya ada disini? Padahal saya sudah tahu dan sadar sejak saya pertama kali membuka sampul Kitab Shahih Bukhari, bahwa Al-quran dan Al-hadist adalah suci dan dia tidak bisa di simpan di tempat yang kotor! Apalagi tong sampah! Dan saya merasa kan hati saya bagai tong sampah! Setelah hampir 2 tahun saya pergi mencari jati diri, belum ada perubahan kearah yang lebih baik yang saya dapatkan dalam diri saya! Apalagi harus menghafal dan mengamalkan seluruh isi kitab suci itu? Seakan itu semua impian yang jauh!!! Dan khayalan yang sia-sia!!!
Saya tidak akan menyalahkan kamu, saya tidak akan bertanya "Kenapa kamu hadir dalam hidup saya?” saya tidak akan pernah menyesali kenapa saya bertemu kamu? Karena saya sadar kamu adalah makhluk indah yang diciptakan Allah untuk mendampingi saya, meskipun Cuma 1 malam dalam mimpi, dan saya sadar kamu adalah guru bagi saya, yang telah mengajari saya arti hidup, perjuangan dan cinta!
Hidup cuma sekali, pergunakanlah dengan baik...., sebelum izin bernafas diambil, dari lubuk hati yang paling dalam, dan kesadaran penuh saya menulis surat ini, semoga ini menjadi awal yang baik bagi saya dan akhir yang baik bagi kamu!!!.
Pertama kali saya mohon maaf, karena saya telah membawa kamu kedalam kubangan dosa, kalaupun mungkin seandainya kata-kata maaf dari kamu tidak ada lagi buat saya, saya akan menanggung dosa itu sendiri.
Saya sadar dan kamu tahu itu, bahwa saya lah yang mulai hal ini, mungkin saat itu saya lemah, lalai! Saya tahu dan kamu juga sadar yang saya lakukan itu melanggar aturan agama kita, wallahi….., saya tidak melanggar aturan agama itu karena sombong atau bangga, itu semua karena kelemahan saya dan kelalaian saya sebagai hamba yang berlumuran dosa dan maksiat. Bukankah saya yang memaksa kamu jadi Pacar (astaghfirullah….,) saya? Atas itu saya mohon maaf!
Mungkin kamu juga datang tepat waktu di saat saya kesepian, kamu ingatkan waktu dulu saya minta tolong Sama kamu menyampaikan hadiah Ultah buat Mega, dan akhirnya saya kecewa dengan dia? Di saat saya kecewa, putus asa (seharusnya saya tidak begitu, karena sebenarnya itulah pertolongan Allah, yang masih menolong saya dari lembah dosa!), kamu datang dengan selembar surat berisi nasehat, (sampai saat ini surat itu masih saya simpan, InsyaAllah akan segera saya kembalikan padamu), nasehat seorang teman, namun surat-surat selanjutnya seakan memberikan saya lampu hijau, karena memang surat-surat itu berwarna dan dengan isi yang menggoda! (Astaghfirullah....,) saat itulah saya merasa seakan Allah menganti Mega dengan kamu! Ternyata saya salah..., tapi saya berterima kasih karena kamu hadir memberi saya semangat, terus terang saya akui saya bisa mendapat peringkat 3 dari 950 siswa di Gontor, tidak lepas dari jasa kamu, support dan pasti doa kamu, sekali lagi terima kasih.
Sekarang saya sadari dan kamu juga harus paham, bahwa tidak ada akhir yang baik yang dimulai dengan hal yang salah!! Tidak ada bangunan yang kokoh yang berpondasi lemah! Saya tidak tahu apakah yang kamu katakan bahwa kamu punya harapan besar pada saya, yang menurut kamu saya bisa membawa kamu dekat pada Allah itu adalah benar atau Cuma rayuan kamu saja? Karena tidak mungkin rumah tangga yang sakinah penuh mawaddah dan rahmah itu dimulai dari fase pacaran! Atau apapun lain istilahnya yang maksudnya menghalalkan hubungan cinta antara seorang laki-laki dengan wanita di luar ikatan pernikahan! Memang selama ini kita tidak pegang-pegangan, berkhalwat berdua, dan lain-lain (Nau'uzubillah min zalik), tapi paling kurang cinta kita (mungkin tepatnya saya, karena saya tidak tahu pasti yang sebenarnya ada di hati kamu) sudah salah saluran! Agama tidak melarang cinta! Karena itu adalah fitrah yang diciptakan Allah...., tapi agama memberikan sebuah jalur khusus untuk penyaluran cinta itu! Yaitu pernikahan! Kalau selama ini kamu merasa apa yang saya rasakan, mari sama-sama kita bertobat minta ampun pada Allah. Selama ini paling tidak saya telah meluangkan tempat buat makhluq di hati saya lebih dari pada tempat yang saya sediakan buat Khaliq saya! (A'uzubika min an usyrika bika syaian a'lamuhu wa istaghfiruka lima la a'lamuhu, ya akramal akramin! ini doa bagus agar jauh dari sifat sombong, kufur dan riya'!)
Sebenarnya sejak sebelum saya pergi saya ingin mengatakan ini..., tapi ketulusan kamu tanggal 10 November di RS PMI meluluhkan saya, saya tidak tega menyakiti kamu! Saya coba ketika saya tiba di Damascus, tetap saja saya tidak mampu..., terakhir yang saya coba ketika saya telpon tanggal 30 September, tapi saya tidak kuasa mengatkannya! Mungkin dengan terpaksa saya tulis disini! Tolong jangan kamu berpikir macam-macam, bukan karena orang ke 3, bukan saya tidak sayang lagi padamu, bukan saya ingin mengingkari janji-janji saya, bukan saya ingin memutuskan silaturahim, bukan saya tidak pantas buat kamu ataupun kamu terlalu baik buat saya, tapi sungguh tujuan saya ini demi kebaikan kita bersama, saya ingin membersihkan hati kita, terutama saya sendiri….., saya ingin hafal Al-Quran, saya ingin hafal Hadist-hadist Rasulullah dan melaksanakan isinya itu semua!
Setelah saya menelpon kamu terakhir itu, niat saya bertambah bulat untuk menyatakan ini, saya yakin kalau memang kamu milik saya, maut pun tidak mungkin memisahkan kita! Kalau ketika saya pulang nanti, kamu masih sendiri, itulah jawaban bahwa kamu memang tercipta untuk membimbing saya menyempurnakan ibadah saya dan Sunnah rasul-Nya.
Jadi saat ini saya tidak akan menawarkan pilihan apa-apa buat kamu, saya hanya mau mengatakan bahwa anggap saja kita tidak pernah sayang-sayangan atau cinta-cintaan! atau lainnya, kalau memang kamu masih mau menjadi teman saya, saya siap menjadi sahabat yang akan manangis kalau kamu menangis, dan tertawa di saat kamu tertawa! semoga persahabatan kita karena Allah, jadi sejak saat ini kamu tidak perlu merasa terikat lagi dengan saya, saya yakin kamu tahu apa yang terbaik yang harus kamu lakukan, demi masa depan kamu. Mungkin kamu tidak perlu lagi menulis nama saya di phone book "Soulmate", tulis saja Zaki..., ya, Muhammad Zaki al-Islami. Saya juga akan berusaha menghilangkan nama kamu yang tersebar di pakaian, buku dan kepala saya!!!!
Saya minta maaf sekali lagi kalau selama ini saya sering menyakiti kamu, dan saya berterima kasih atas apa yang kamu lakukan buat saya selama ini. Dan permohonan maaf terbesar dan doa yang tulus dari Ibunda kamu, semoga saya jadi anak yang berguna bagi orang tua, agama, bangsa dan Negara. Karena bagi saya orang tua adalah sumber pahala dan kebahagiaan didunia dan akhirat, meskipun beliau bukanlah orang yang melahirkan dan membesarkan saya. Tolong sampaikan ini pada Ibunda kamu, kalau kamu tidak menyampaikannya, itu adalah amanat saya pada kamu, yang akan jadi hutang kamu pada saya.
Saya Akan selalu manyebut Nama kamu dalam setiap DOA saya, seperti dulu Nama kamu saya sebut, semoga kita mendapat apa yang kita cita-cita kan.
Sekali lagi saya minta maaf, doakan saya semoga jadi anak yang berguna bagi orang tua, agama, bangsa dan Negara.
14.04 WS. 14-April-2014
Maqam Arbai'in, Abou Najieb, Roukn El-Dien, Damascus
Muhammad Zaki al-Islami
Surat itu telah diterima oleh Nada satu tahun yang lalu, sampai hari ini Iki tidak pernah tahu nasib Nada, yang pasti Nada sudah menjadi sarjana, mungkin jadi Kimiawan, Pengajar, ataupun melanjutkan kuliahnya. Nada pun tidak pernah lagi memberikan kabar tentang dirinya, kabar terakhir yang diberikan Nada 6 bulan yang lalu, ucapan happy birthday buat Iki, itupun nomornya sudah tidak aktif lagi. Berita Nada terakhir diterima Iki dari Herry Cahyono Pangestu Hadiningrat, Mahasiswa Batak’s Literature di UGM, sekitar 5 bulan yang lalu, bahwa Nada masih sendiri, dan akan tetap sendiri menunggu Iki pulang. Berita itu cukup mengganggu Iki, tapi cepat-cepat rasa itu ditepis jauh-jauh....,
Tiga bulan lagi, secara bersamaan Iki akan menyelesaikan kuliahnya di dua universitas. Mehmed Yasser Thompson, Temannya dari Inggris mengajak Iki melanjutkan kuliah di Inggris. Namun tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh pak Hasan, beliau paling anti belajar Islamic studies di negeri orang kafir, siapapun pengajarnya! Meskipun pengajarnya ulama al-Azhar! Bukannya beliau kolot, buktinya kakak perempuan Iki sekolahnya di Australia, spesialis kandungan..., menurut beliau belajar Islamic studies di Belanda, Kanada, Inggris lebih-lebih di Perancis adalah "penggoblokan" diri sendiri! Kecuali kalau Iki mau sekolah jurusan Ekonomi di sana. Beliau ingin sebelum pulang ke Indonesia Iki mondok satu tahun lagi di Yaman, setelah itu baru pulang atau meneruskan S2 di mana saja Iki suka. Iki anak penurut sama orang tua..., tidak pernah sekalipun dia membantah perkataan pak Hasan, apalagi sejak satu tahun lalu setelah bu Yanti meninggal dunia.
Mampukah Nada bertahan satu tahun tiga bulan lagi? Mungkinkah doa-doa yang dipanjatkan Iki setiap malam akan menjadi kenyataan? Akankah takdir terlaksana bagi mereka? Kita tunggu satu tahun tiga bulan lagi…..,
to be continue
Zaki namanya, ya Muhammad Zaki al-Islami, asalnya Majalengka, tapi pernah tinggal di Cirebon, ibunya jadi kepala RSU di sana. Zaki biasanya dipanggil teman-teman Iki, mahasiswa semester terakhir universitas Damascus, jurusan Ekonomi Islam, Iki juga terdaftar di univesitas Baats, jurusan Sastra dan Kebudayaan Timur-Tengah, juga semester terakhir. Iki termasuk mahasiswa yang aktif di mana-mana, meskipun kesibukan kuliahnya nggak bisa diajak kompromi. Kemurahan senyumnya itu yang bikin semua teman-teman betah berada di samping dia, nggak terkecuali para mahasisiwi yang caper pura-pura tanya pelajaran atau minjam rekaman presentasi Dosen. Tapi Iki tetaplah Iki yang kalem, nggak sombong, biarpun agak cuek sedikit sama cewek, baik dan yang pasti nggak pelit, kalau naik bus sama dia, uang 10 ribu yang seharusnya buat ongkos bisa tetap aman di saku, karena Iki nggak bakal ngijinin ada temannya yang bayarin dia. Kata teman-teman dia keturunan Rasulullah alias Ahlul Bait, jadi nggak bisa menerima sumbangan dari orang. (Sebenarnya menurut saya sah-sah saja sih hee..., menerima sumbangan biarpun dia keturunan Rasul, zaman dulu keluarga Rasul nggak menerima sedekah dan zakat karena mereka mendapat hak khumus (seperlima) dari rampasan perang, hari ini kan khumus itu nggak ada lagi, jadi hukum itu bisa saja berubah seiring berubahnya zaman, selama hukum itu bukan qot’i (permanent yang berdasarkan nash kitab dan sunnah yang sharih). Dan menurut mayoritas ulama mereka boleh saja menerima sumbangan selain zakat, seperti yang disebutkan ustadzuna Dr.Zuhaily dalam Fiqh Islamy-nya, namun DR.Qordhowy dalam disertasinya yang legendaris itu "Fiqh Zakat" membolehkan mereka menerima zakat itu hari ini). Iki tetap Iki, sekilas orang akan melihat Iki adalah mahasiswa paling beruntung di Damascus, tampang oke, prestasi akademisnya di atas rata-rata, di lapangan juga jago, untuk top scorer tahun 2014 lomba sepak bola 17 agustus-an masih di tangan Iki, ini tahun ke tiga dia mempertahankan prestasi itu. Tapi kalau bicara masalah cinta dan pacaran, Iki nggak seberuntung Habibie dan Ainun, bahkan lebih menyedihkan dari Rama dan Shinta, meskipun nggak setragis Romeo dan Juliet!
Mungkin sudah jadi trend ya masa puber dimulai dengan pacaran dan tumbuhnya jerawat Asmara di pipi dan hidung, he…., itu kata anak-anak muda yang lagi kenalan dengan cewek dan madly in love. Kalau baru jadian dapat jerawat di muka, tapi kalau habis break up dapat hati yang patah. eh..., patah hati ding :D
Iki menghabiskan SMP nya di kota Majalengka, di sana dia kenalan sama Nada Khoerunnisa, cewek cantik yang memikat hatinya. Tapi itu bukan orang pertama yang hadir dalam hidupnya, ada seorang gadis bernama Mega Fatiha yang mampir di hatinya, namun ya sekedar mampir..., Iki just clap with one hand, tapi Nada datang menggantikan posisi Mega. Singkat cerita mereka lulus dari SMP 1, Nada dan Mega masuk SMU yang Sama, sedangkan Iki anak mantan Pangdam 1/BB, Mayjen Hasan Al-Banna, dipaksa orang tuanya masuk pesantren. Kakak laki-laki Iki sekarang menjadi kapolres di Majalengka, kakak perempuannya wakil kepala RSU di kodya Cirebon. Dan Iki anak bungsu yang menjadi harapan orang tuanya menjadi ustadz akhirnya dimasukkan ke pondok pesantren Gontor, Ponorogo.
Cinta emang nggak kenal ruang dan waktu, jauh di mata dekat di hati. Hubungan antara Iki dengan Nada tambah mesra saja. Perlu diketahui bahwa Iki bisa mendapatkan hati Nada setelah 7 kali ditolak! Dan itu dalam tempo 5 minggu! Mengutip kata-kata Iki, “Harga diri ku belum pernah diinjak-injak kecuali oleh Nada, tapi akhirnya aku bisa menakhlukkah mahligai cintanya. Aku tahu dengan apa yang kulakukan itu sekan-akan aku mengemis cinta, tapi Nada mengatakan bahwa dia hanya ingin mencoba aku, apa benar motto ku yang pernah ku katakan padanya hanya bualan atau benar-benar motto cintaku…., kehilangan harga diri karena cinta lebih baik dari pada kehilangan cinta karena harga diri…,”
Akhirnya, setelah 4 tahun di penjara, Iki lulus dengan nilai mumtaz (cumlaude), tapi karena surat Nada pernah ketahuan sama pengasuhan santri, akhirnya nama Iki tercantum dalam black list, dan itu yang menghalangi dia mendapat pengabdian di Gontor 1, Iki terpaksa dikirim ke Gontor 7 di Kendari Sulawesi Tenggara sebagai tempat pengabdiannya selama setahun. Jauh dari hutan sana, cinta Iki selalu menyapa Nada yang hari itu sudah tercatat sebagai mahasiswi semester 4 fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kata Iki, hanya satu titik yang ada sinyal Mentari atau Simpati di pondok Gontor 7..., tepatnya di belakang rumah pengasuh pondok, dari sanalah SMS cinta menyebar ke seluruh nusantara, karena bukan hanya Iki saja di sana, tapi banyak teman-teman lain juga yang bernasib dan berprofesi sama.
Setelah setahun mengabdi di Gontor 7, Iki pulang dan mengikuti kemauan sang ayah untuk kedua kalinya. Ayahnya mempunyai teman yang mengurus keberangkatannya ke luar negeri, Damascus menjadi pilihan ayahnya. Kota kuno yang penuh dengan ulama yang moderat dan penuh toleransi, di samping peradaban yang maha tinggi. Konon ayahnya pernah bertugas di sana selama dua bulan ketika terjadi perang antara Suriah dan Israel memperebutkan dataran tinggi Golan tahun 1973. Kayaknya pak Hasan tertarik dengan kecantikan gadis-gadis Suriah, makanya pengen punya menantu dari sana. Kalau saja saat itu pak Hasan belum melamar Bu Yanti, ibunya Iki, mungkin pak Hasan sudah menikahi salah satu gadis Suriah.
Untuk kesekian kalinya hati Nada terluka dan kecewa, seakan Iki semakin jauh darinya, sejak SMP sama-sama, Iki pindah ke Jawa, dari Jawa Iki pindah ke Sulawesi, sekarang Iki akan pergi ke Suriah. Cobaan bagi Nada, kesetiaannya diuji, namun Nada emang bukan cewek pengobral cinta, meskipun Iki bukan orang pertama yang hadir menghiasi hatinya, tapi Nada tidak bisa diganggu, seperti halnya Nada bagi Iki, bukan yang pertama, namun dua anak manusia itu telah berjanji untuk saling setia. Sedikit demi sedikit cinta monyet mereka naik tingkatan menjadi cinta orang hutan dan akhirnya menjadi cinta gorilla yang lebih gede…, hehe
Setelah Iki tiba di Damascus, seakan Iki memasuki dunia baru, hari-harinya bergelut dengan buku-buku, dari habis ashar sampai isya waktunya dihabiskan bersama ulama-ulama di masjid besar Bani Umayyah Damascus. Siraman rohani syeikh Rajab Deeb, tokoh sufi besar di Damascus, pengajian DR.Bouty, ulama serba bisa tingkat internasional, wejangan DR.Zuhaily, Syeikh Usamah dan nasehat-nasehat Syeikh Naiem Araksusy membuat mata hati Iki semakin bisa melihat. Sedikit demi sedikit hatinya mulai bertanya…., apa yang seharusnya kamu lakukan dan seharusnya kamu tinggalkan? Apa prioritas hidup kamu? Kenapa kamu begini? Kenapa kamu membuang-buang pikiran untuk memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak dipikirkan?…, apa…., kenapa….,
Sudah dua tahun Iki di Damascus, hubungannya dengan Nada seperti biasa, bahkan kadang-kadang Nada yang kini hampir menyelesaikan skripsinya mulai menyinggung masalah yang lebih serius. Tapi itu semua dianggap canda oleh Iki. Namun Iki dua tahun terakhir bukan Iki yang dulu. Dengan terpaksa dia memutuskan hubungan yang telah terjalin lama dengan Nada melalui surat yang dikirim ke Indonesia.
Surat Iki yang singkat itu mungkin akan menghancurkan hati Nada, tapi itulah kenyataan yang harus diputuskan dan diterima.
Dari Muhammad Zaki al-Islami, Damascus
Kepada yang tercinta Nada Khoerunnisa, Yogyakarta
Dalam sebuah riwayat dikatakan, ketika Ummu Darda' ditanya tentang amalan apa yang paling banyak dilakukan Al-shohabi Al-jalil Abu Darda' RA? Ummu Darda' berkata: "Hal yang paling banyak dilakukan Abu Darda' adalah bertafakkur dan menginstrospeksi diri". Shahabi Abu Darda' bisa duduk berjam-jam bertafakkur dan berzikir menghayati ciptaan Allah, dengan itu beliau mendapatkan ketenangan jiwa dan keimanan yang kuat, karena hanya dengan berfikir dan menganalisa alam kita bisa memperkuat Iman pada Allah. Sayyidina Umar RA berkata:
“Hitunglah amalanmu sebelum Dihitung (akhirat)".
Kita kan sama-sama tidak tahu kapan ajal datang menjemput, bisa saja sebelum atau sesudah membaca Surat ini kita disamperin malaikat maut, sebelum kita sempat bertaubat minta ampun pada Allah SWT....., Rasulullah saw, bertaubat 100 kali setiap hari, beliau adalah orang pertama yang masuk surga, karena tidak akan dibuka pintu surga sebelum beliau masuk (al-Hadist), tapi dengan jaminan itu beliau tetap bersyukur dan bertaubat 100 kali setiap hari! Bagaimana dengan kita wahai hamba Allah yang belum jelas juntrungannya...., ?
Akhir-akhir ini saya sering berfikir, bertanya pada diri sendiri, apa yang telah kita lakukan selama ini? Mungkin bukan kita, tepatnya saya pribadi! Saya pergi jauh-jauh ke negeri para Rasul dan Aulia untuk belajar Ilmu Agama dan mencari siapa sebenarnya saya ini? Untuk apa saya ada disini? Padahal saya sudah tahu dan sadar sejak saya pertama kali membuka sampul Kitab Shahih Bukhari, bahwa Al-quran dan Al-hadist adalah suci dan dia tidak bisa di simpan di tempat yang kotor! Apalagi tong sampah! Dan saya merasa kan hati saya bagai tong sampah! Setelah hampir 2 tahun saya pergi mencari jati diri, belum ada perubahan kearah yang lebih baik yang saya dapatkan dalam diri saya! Apalagi harus menghafal dan mengamalkan seluruh isi kitab suci itu? Seakan itu semua impian yang jauh!!! Dan khayalan yang sia-sia!!!
Saya tidak akan menyalahkan kamu, saya tidak akan bertanya "Kenapa kamu hadir dalam hidup saya?” saya tidak akan pernah menyesali kenapa saya bertemu kamu? Karena saya sadar kamu adalah makhluk indah yang diciptakan Allah untuk mendampingi saya, meskipun Cuma 1 malam dalam mimpi, dan saya sadar kamu adalah guru bagi saya, yang telah mengajari saya arti hidup, perjuangan dan cinta!
Hidup cuma sekali, pergunakanlah dengan baik...., sebelum izin bernafas diambil, dari lubuk hati yang paling dalam, dan kesadaran penuh saya menulis surat ini, semoga ini menjadi awal yang baik bagi saya dan akhir yang baik bagi kamu!!!.
Pertama kali saya mohon maaf, karena saya telah membawa kamu kedalam kubangan dosa, kalaupun mungkin seandainya kata-kata maaf dari kamu tidak ada lagi buat saya, saya akan menanggung dosa itu sendiri.
Saya sadar dan kamu tahu itu, bahwa saya lah yang mulai hal ini, mungkin saat itu saya lemah, lalai! Saya tahu dan kamu juga sadar yang saya lakukan itu melanggar aturan agama kita, wallahi….., saya tidak melanggar aturan agama itu karena sombong atau bangga, itu semua karena kelemahan saya dan kelalaian saya sebagai hamba yang berlumuran dosa dan maksiat. Bukankah saya yang memaksa kamu jadi Pacar (astaghfirullah….,) saya? Atas itu saya mohon maaf!
Mungkin kamu juga datang tepat waktu di saat saya kesepian, kamu ingatkan waktu dulu saya minta tolong Sama kamu menyampaikan hadiah Ultah buat Mega, dan akhirnya saya kecewa dengan dia? Di saat saya kecewa, putus asa (seharusnya saya tidak begitu, karena sebenarnya itulah pertolongan Allah, yang masih menolong saya dari lembah dosa!), kamu datang dengan selembar surat berisi nasehat, (sampai saat ini surat itu masih saya simpan, InsyaAllah akan segera saya kembalikan padamu), nasehat seorang teman, namun surat-surat selanjutnya seakan memberikan saya lampu hijau, karena memang surat-surat itu berwarna dan dengan isi yang menggoda! (Astaghfirullah....,) saat itulah saya merasa seakan Allah menganti Mega dengan kamu! Ternyata saya salah..., tapi saya berterima kasih karena kamu hadir memberi saya semangat, terus terang saya akui saya bisa mendapat peringkat 3 dari 950 siswa di Gontor, tidak lepas dari jasa kamu, support dan pasti doa kamu, sekali lagi terima kasih.
Sekarang saya sadari dan kamu juga harus paham, bahwa tidak ada akhir yang baik yang dimulai dengan hal yang salah!! Tidak ada bangunan yang kokoh yang berpondasi lemah! Saya tidak tahu apakah yang kamu katakan bahwa kamu punya harapan besar pada saya, yang menurut kamu saya bisa membawa kamu dekat pada Allah itu adalah benar atau Cuma rayuan kamu saja? Karena tidak mungkin rumah tangga yang sakinah penuh mawaddah dan rahmah itu dimulai dari fase pacaran! Atau apapun lain istilahnya yang maksudnya menghalalkan hubungan cinta antara seorang laki-laki dengan wanita di luar ikatan pernikahan! Memang selama ini kita tidak pegang-pegangan, berkhalwat berdua, dan lain-lain (Nau'uzubillah min zalik), tapi paling kurang cinta kita (mungkin tepatnya saya, karena saya tidak tahu pasti yang sebenarnya ada di hati kamu) sudah salah saluran! Agama tidak melarang cinta! Karena itu adalah fitrah yang diciptakan Allah...., tapi agama memberikan sebuah jalur khusus untuk penyaluran cinta itu! Yaitu pernikahan! Kalau selama ini kamu merasa apa yang saya rasakan, mari sama-sama kita bertobat minta ampun pada Allah. Selama ini paling tidak saya telah meluangkan tempat buat makhluq di hati saya lebih dari pada tempat yang saya sediakan buat Khaliq saya! (A'uzubika min an usyrika bika syaian a'lamuhu wa istaghfiruka lima la a'lamuhu, ya akramal akramin! ini doa bagus agar jauh dari sifat sombong, kufur dan riya'!)
Sebenarnya sejak sebelum saya pergi saya ingin mengatakan ini..., tapi ketulusan kamu tanggal 10 November di RS PMI meluluhkan saya, saya tidak tega menyakiti kamu! Saya coba ketika saya tiba di Damascus, tetap saja saya tidak mampu..., terakhir yang saya coba ketika saya telpon tanggal 30 September, tapi saya tidak kuasa mengatkannya! Mungkin dengan terpaksa saya tulis disini! Tolong jangan kamu berpikir macam-macam, bukan karena orang ke 3, bukan saya tidak sayang lagi padamu, bukan saya ingin mengingkari janji-janji saya, bukan saya ingin memutuskan silaturahim, bukan saya tidak pantas buat kamu ataupun kamu terlalu baik buat saya, tapi sungguh tujuan saya ini demi kebaikan kita bersama, saya ingin membersihkan hati kita, terutama saya sendiri….., saya ingin hafal Al-Quran, saya ingin hafal Hadist-hadist Rasulullah dan melaksanakan isinya itu semua!
Setelah saya menelpon kamu terakhir itu, niat saya bertambah bulat untuk menyatakan ini, saya yakin kalau memang kamu milik saya, maut pun tidak mungkin memisahkan kita! Kalau ketika saya pulang nanti, kamu masih sendiri, itulah jawaban bahwa kamu memang tercipta untuk membimbing saya menyempurnakan ibadah saya dan Sunnah rasul-Nya.
Jadi saat ini saya tidak akan menawarkan pilihan apa-apa buat kamu, saya hanya mau mengatakan bahwa anggap saja kita tidak pernah sayang-sayangan atau cinta-cintaan! atau lainnya, kalau memang kamu masih mau menjadi teman saya, saya siap menjadi sahabat yang akan manangis kalau kamu menangis, dan tertawa di saat kamu tertawa! semoga persahabatan kita karena Allah, jadi sejak saat ini kamu tidak perlu merasa terikat lagi dengan saya, saya yakin kamu tahu apa yang terbaik yang harus kamu lakukan, demi masa depan kamu. Mungkin kamu tidak perlu lagi menulis nama saya di phone book "Soulmate", tulis saja Zaki..., ya, Muhammad Zaki al-Islami. Saya juga akan berusaha menghilangkan nama kamu yang tersebar di pakaian, buku dan kepala saya!!!!
Saya minta maaf sekali lagi kalau selama ini saya sering menyakiti kamu, dan saya berterima kasih atas apa yang kamu lakukan buat saya selama ini. Dan permohonan maaf terbesar dan doa yang tulus dari Ibunda kamu, semoga saya jadi anak yang berguna bagi orang tua, agama, bangsa dan Negara. Karena bagi saya orang tua adalah sumber pahala dan kebahagiaan didunia dan akhirat, meskipun beliau bukanlah orang yang melahirkan dan membesarkan saya. Tolong sampaikan ini pada Ibunda kamu, kalau kamu tidak menyampaikannya, itu adalah amanat saya pada kamu, yang akan jadi hutang kamu pada saya.
Saya Akan selalu manyebut Nama kamu dalam setiap DOA saya, seperti dulu Nama kamu saya sebut, semoga kita mendapat apa yang kita cita-cita kan.
Sekali lagi saya minta maaf, doakan saya semoga jadi anak yang berguna bagi orang tua, agama, bangsa dan Negara.
14.04 WS. 14-April-2014
Maqam Arbai'in, Abou Najieb, Roukn El-Dien, Damascus
Muhammad Zaki al-Islami
Surat itu telah diterima oleh Nada satu tahun yang lalu, sampai hari ini Iki tidak pernah tahu nasib Nada, yang pasti Nada sudah menjadi sarjana, mungkin jadi Kimiawan, Pengajar, ataupun melanjutkan kuliahnya. Nada pun tidak pernah lagi memberikan kabar tentang dirinya, kabar terakhir yang diberikan Nada 6 bulan yang lalu, ucapan happy birthday buat Iki, itupun nomornya sudah tidak aktif lagi. Berita Nada terakhir diterima Iki dari Herry Cahyono Pangestu Hadiningrat, Mahasiswa Batak’s Literature di UGM, sekitar 5 bulan yang lalu, bahwa Nada masih sendiri, dan akan tetap sendiri menunggu Iki pulang. Berita itu cukup mengganggu Iki, tapi cepat-cepat rasa itu ditepis jauh-jauh....,
Tiga bulan lagi, secara bersamaan Iki akan menyelesaikan kuliahnya di dua universitas. Mehmed Yasser Thompson, Temannya dari Inggris mengajak Iki melanjutkan kuliah di Inggris. Namun tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh pak Hasan, beliau paling anti belajar Islamic studies di negeri orang kafir, siapapun pengajarnya! Meskipun pengajarnya ulama al-Azhar! Bukannya beliau kolot, buktinya kakak perempuan Iki sekolahnya di Australia, spesialis kandungan..., menurut beliau belajar Islamic studies di Belanda, Kanada, Inggris lebih-lebih di Perancis adalah "penggoblokan" diri sendiri! Kecuali kalau Iki mau sekolah jurusan Ekonomi di sana. Beliau ingin sebelum pulang ke Indonesia Iki mondok satu tahun lagi di Yaman, setelah itu baru pulang atau meneruskan S2 di mana saja Iki suka. Iki anak penurut sama orang tua..., tidak pernah sekalipun dia membantah perkataan pak Hasan, apalagi sejak satu tahun lalu setelah bu Yanti meninggal dunia.
Mampukah Nada bertahan satu tahun tiga bulan lagi? Mungkinkah doa-doa yang dipanjatkan Iki setiap malam akan menjadi kenyataan? Akankah takdir terlaksana bagi mereka? Kita tunggu satu tahun tiga bulan lagi…..,
to be continue
0 comments:
Post a Comment