Mahasiswa, Pemilu dan Demokrasi Kita

Dalam sebuah negara dengan sistem demokrasi seperti di Indonesia, Pemilihan umum atau sering disebut pemilu merupakan momentum yang sangat fundamental bagi bangsa Indonesia. Hal ini dikarenakan, melalui pemilu lah nasib bangsa ini 5 tahun kedepan ditentukan melalui perangkat-perangkat pemerintahan (eksekutif, legislatif, dan yudikatif). Sehingga, sudah seharusnya para calon pemimpin kita mendapatkan legitimasinya dari masyarakat sebagai pelaksana amanat perjuangan rakyat.

Di tahun ini, Indonesia kembali melaksanakan pemilihan umum sebagai bentuk pesta demokrasi rakyat Indonesia. Rangkaian pesta demokrasi Indonesia yang memakan banyak biaya ini, sekarang telah memasuki tahap pemilihan Presiden.  Berbagai macam kalangan mulai dari masyarakat yang paling bawah sampai kalangan elit pemerintahan beramai-ramai mengusung calon presiden dan wakil presiden yang mereka dukung.

Sayangnya, setelah berulang kali pemilu dilaksanakan, pemilu Indonesia masih kerap kali "dipertanyakan" legitimasinya.  Banyak orang yang berpartisipasi dalam pemilu ini hanya sekedar "memilih" saja tanpa tahu apa, siapa, dan dampak yang dipilihnya.  Mahasiswa, sebagai middle class society pun masih banyak yang bahkan tidak menggunakan hak pilihnya pada pemilu legislatif yang baru saja berlangsung.

Padahal Menurut Robert Dahl, seorang professor emeritus bidang sains dan politik, dalam sebuah Negara demokratis terdapat syarat yang cukup fundamental sehingga Negara tersebut dapat melangsungkan demokrasi secara sehat. Salah satu syarat sebuah negara yang demokratis tersebut adalah pemahaman masyarakatnya yang tercerahkan, yang dalam konteks pemilu berarti setiap anggota masyarakat harus mempunyai kesempatan yang sama dan efektif untuk mempelajari kebijakan-kebijakan yang akan dibawa oleh para calon presiden dan wakil presiden dan konsekuensi-konsekuensi  yang mungkin dari kebijakan tersebut.

Menanggapi masalah ini, mahasiswa belum bisa berbuat banyak. Gerakan-gerakan menjelang pemilu yang dilakukan mahasiswa kebanyakan hanya mengajak masyarakan untuk datang ke TPS, menggunakan hak pilihnya dan menghimbau agar tidak golput. Padahal golput dan tidak golput bukanlah permasalahan inti dalam alam demokrasi kita. Melainkan bagaimana masyarakat dapat mengerti esensi utama dari demokrasi itu sendiri, kedaulatan rakyat.

Mahasiswa seharusnya bisa menjadi penyambung lidah rakyat kepada pemerintah dan sebaliknya. Membantu masyarakat Indonesia sebagai penduduk Negara demokrasi menjadi lebih tahu mengenai calon pemimpin, ide-ide, serta gagasan dan konsekuensi dari setiap calon yang ikut berlaga pada Pilpres 2014.

Masalah lalu timbul, kaum mahasiswa justru kesulitan memenuhi tugasnya sebagai middle class society karena kesulitan mencari tahu informasi yang benar benar komprehensif mengenai calon presiden dan wakil presiden. Mahasiswa sebagai masyarakat sipil yang terpelajar sangat sulit mendapatkan informasi yang valid karena derasnya arus informasi yang beredar di masyarakat. Banyaknya kampanye hitam dan pernyataan yang saling menjatuhkan di berbagai media menjadi sebab sangat sulitnya membedakan mana informasi yang bisa dipercaya atau hanya untuk menjatuhkan lawan politik.

Oleh karena hal tersebut, akan sangat bijak bila Calon Presiden dan Wakil Presiden mau datang dan berdiskusi dengan mahasiswa agar kaum mahasiswa bisa menjadi pemilih yang cerdas dan membantu mencerdaskan masyarakat yang lain. Saya yakin, sudah sangat banyak undangan dari mahasiswa yang masuk pada masing masing pasangan calon.

Supaya kampus ini menjadi tempat bertanya dan harus ada jawabnya
Supaya kehidupan kampus ini membentuk watak dan kepribadian
Supaya lulusannya bukan saja menjadi pelopor pembangunan, tetapi juga pelopor persatuan dan kesatuan bangsa.

Pertanyaannya sekarang tinggal diajukan pada para presiden dan wakil presiden, sudikah?


Melly Khoerunnisa
#EfekInsomnia

0

0 comments:

Post a Comment