05 April 2014 pukul 22:22 WIB
Rasulullah mengatakan dalam Hadits Beliau: "Jadilah kamu pengajar atau pelajar atau pendengar, jangan jadi yang keempat!". Muhammad Iqbal mengatakan: "Hidup adalah perjalanan yang tidak ada halte, siapa yang berjalan terus akan maju, dan siapa yang berhenti akan tergilas". John Newbern mengatakan: "Manusia itu dibagi tiga macam: Mereka yang membuat sesuatu terjadi, Mereka yang melihat sesuatu terjadi dan Mereka yang terpesona dengan apa yang terjadi".
Setiap 2 bulan sekali saya membeli buku baru di Toko Buku, buku apa saja, dan saya paling terpesona dengan tulisan fiksi sejenis novel dan tulisan tentang pemikiran manusia abad ke 6 Hijriah, entah kenapa pemikiran 8 abad yang lalu masih menyisakan ribuan rahasia yang sangat menarik dibahas. Kadang-kadang saya juga berfikir sampai kapan saya menjadi pendengar, konsumen dan orang yang selalu terpesona dengan hasil karya orang lain? Saya merasa ini posisi yang pasif, tapi menjadi pendengar lebih baik daripada tidak masuk satupun dalam tiga karakter manusia yang dikatakan Nabi Muhammad, karena selain tiga itu, pasti kalau bukan penjahat, ya yang orang-orang yang rugi!
Kadang-kadang teman saya bercerita kepada saya kalau punya keinginan mewujudkan isi kepalanya dalam tulisan yang enak dibaca orang, saya tahu teman saya itu suka menbaca, satu minggu bisa menghabiskan dua buku. Tapi katanya satu kendala yang menjadi permasalahannya, kendala yang dibawanya sejak kelas tiga MTS dulu, yaitu nggak tau mau mulai dari mana? Katanya pernah dia menulis, tapi jangankan buat dibaca orang, ketika dia baca sendiri saja merasa risih dan kaku, hal ini menambah ciut nyalinya untuk terus berusaha. Ternyata itu bukan masalah saya saja, semua orang juga merasa begitu ya!
Ketika saya membaca kritikan buat alumni Timur-Tengah yang katanya bisa berbicara di atas mimbar berjam-jam, tapi kalau disuruh menulis, jangankan menulis sebuah buku, buat rubrik tafakkur atau resonansi koran lokal saja nggak pantas! saya merasa panas dan timbul semangat nun jauh di lubuk hati sana, saya juga merasa kalau saya itu punya potensi untuk bisa menjadi penulis handal dan terkenal, tapi potensi itu terlalu jauh di dalam jiwa saya, sudah saya coba menggalinya, tapi belum keluar juga, sepertinya potensi itu dalam banget! Ketika saya bersemangat untuk mengunggkapkan isi kepala saya ke dalam huruf-huruf yang teratur sehingga enak dibaca dan enak didengar oleh orang lain, lagi-lagi saya terhambat oleh masalah "Dari mana saya harus memulai? Tulisan saya ini masuk ke jenis tulisan apa ya? Komik bukan, novel juga terlalu kaku? Kalau dibilang artikel ilmiah sih jauh banget!". Saya masih berproses menjadi seorang penulis karya ilmiah, dari NOL, dari awal masuk kuliah jurusan Kimia. Pertamakali saya menulis karya ilmiah adalah ketika saya menulis Laporan Praktikum Biologi di semester satu yang judulnya Pengangkatan Air Pada Tumbuhan. Oh, betapa susahnya menulis Laporan Praktikum, seumur hidup baru pertamakali lho! waktu itu saya sampai begadang membuatnya, kira-kira sampai pukul 03:40 WIB, hampir subuh! meski tulisan saya masih ecek-ecek, tapi pernah ada 2 tulisan saya tentang Pramuka yang sempat dimuat di koran. Waktu itu saya masih kelas 2 MTS.
Kembali ke pembahasan awal,
Ada teman saya yang lain mengatakan kalau dia pernah menuliskan kisah perjalanan seseorang di padang pasir dekat Tadmur, waktu itu Bus nya rusak, sebuah perjalanan yang sangat seru ketika digambarkan dengan ucapan, tapi ketika tampil dalam tulisan, kayaknya buku bacaan kelas satu SD lebih menarik deh, akhirnya jadi malas meneruskan. Ada lagi yang mengatakan dia senang menulis cerita, tapi kalau lagi mood saja, dan kebetulan BeTe sama moodnya lebih banyak BeTenya! Hasilnya, ya tetap jadi orang nomor tiga dalam klasifikasi manusia menurut John Newbern!
Ada satu lagi yang lumayan aneh alias nggak tau diri bin lugu (kata orang: Lucu dan Foolish), katanya diamau menjadi penulis kayak imam Nawawi dan imam Ibnu Taimiyyah, Yang umurnya tidak sepadan dengan jumlah karyanya, tapi nggak mau membaca, mau menulis apa? Imam Ibnu Taimiyyah meninggal pada umur 67 tahun, meninggalkan 500 karya, dalam berbagai disiplin ilmu, kalau dipikir-pikir berapa tahun buat beliau belajar? Kapan beliau mulai menulis? Belum lagi waktunya yang dipakai untuk berperang, belum lagi sakit karena dicambuk dan dipenjara? Padahal zaman dulu sarana dan prasarana untuk menulis tidak semudah hari ini? But, it was like that! Itulah kenyataannya!
Waktu saya tanya-tanya sama beberapa orang yang menurut saya bisa dijadikan teladan dalam hal membaca dan menulis, kata mereka menulis adalah hobby yang sangat enjoyable, kok bisa? Padahal banyak orang yang pusing kalau dapat tugas presentasi, membuat slide atau membuat makalah di kuliah? Katanya lagi, menulis adalah sebuah aktifitas intelektual yang imajinatif, di mana kita bisa mengungkapkan isi hati kita yang luasnya tak terhingga, ibarat lautan yang tak bertepi, kita bisa bebas bermimpi dan berkhayal sepuasnya hanya dengan modal secarik kertas dan sebatang pulpen. Seperti halnya pesan Pak Irwan Nugraha, M.Si (Dosen Kimia) mengatakan: "kita perlu belajar mencintai dan menikmati pelajaran agar kita tidak lagi terfokus pada nilai apa yang akan kita raih tapi lebih fokus dengan ilmu apa yang akan kita dapat". Andai saja semua orang memiliki pandangan seperti ini terhadap aktifitas belajar, tulis menulis dan membaca, pasti dari dulu bangsa kita sudah sampai di planet Pluto sebelum Neil Amstrong dan Edwin Aldrin menginjakkan kakinya di bulan! Tapi sayangnya kebanyakan kita hanya melihat sebuah "kesuksesan" orang lain dengan penuh apresiasi tanpa pernah mau melihat "jalan" yang ditempuh mereka untuk sampai ke sana, jarang kita bertanya pada diri kita sendiri ketika melihat kesuksesan orang "How did he reach such that top?". Mungkin kita kira DR.Wahbah Zuhaily cuma baca buku wajib di kuliah saja, tau-tau bisa menulis Fiqh Islamy 11 jilid? DR. Saed Ramadhan al-Bouty Cuma ngenet saja, tau-tau lulus dari al-Azhar bisa jadi keren begitu? Jauh ikan dari panggang, kapan masaknya? Paling ikannya dibawa lari kucing! Kalau kita tahu apa yang mereka lakukan saat mereka menjadi seperti kita, maka kita dengan terpaksa harus mengubur mimpi kita untuk menjadi seperti mereka kalau sampai saat ini kita masih seperti ini! Anggap saja itu bukan cita-cita yang harus dicapai, tapi hanya sebuah nightmare yang datang pada malam Jum'ah kliwon.
Tapi kini saya percaya apa yang dikatakan Pak Sudarlin, M.Si (Dosen Kimia) dan Mas Moh. Rusdi, S.Si (Penulis, Alumni Kimia & salah satu pemateri di acara Penulisan Karya Ilmiah) bahwa
"Kemampuan menulis itu bukan lahir karena bakat, tapi karena diciptakan. Artinya, tidak ada orang yang dilahirkan menjadi seorang penulis, tapi yang benar dia tercipta sebagai penulis karena dia diberi peluang dan stimulus untuk belajar, berlatih dan berkembang".
Ketika anda mulai menulis jangan pernah merasa kemampuan anda sangat tidak mungkin untuk menjadi seperti penulis-penulis besar dunia, asahlah kemampuan itu, ungkapkan imajinasi anda melalui tarian dan liukan pulpen ketika manusia terlelap dibuai lembutnya hembusan angin di samudera mimpi, biarkan air mata menetes membasahi jiwa anda yang masih keras dan kaku, mulailah saat ini dengan satu huruf pertama, ingatlah dengan huruf pertama itulah anda merubah peradaban manusia! Kita tidak menanam untuk kita makan esok hari, tapi untuk dimakan generasi dan anak cucu kita esok hari. Never to say too late to begin!
Sepertinya sebuah ide yang bagus kalau kita mau membaca kisah kehidupan mereka-mereka yang telah mati berabad-abad yang lalu namun tulisan mereka masih terasa baru dan hangat untuk dibaca sampai hari ini. Sebuah petualangan indah, pasti anda tahukan Napoleon Bonaparte, si arsitek perang dari pulau Sicilia itu mengirim ratusan surat cinta untuk kekasihnya ketika dia berada di medan perang? Anda juga pasti tidak asing dengan Casanova, orang yang bisa menuliskan beberapa surat cinta setiap hari dan ribuan surat itu telah mendarat di pangkuan gadis-gadis cantik dan berhasil memikat mereka!
Sayangnya mereka tidak meninggalkan novel atau pun sebuah karya ilmiah buat kita hari ini. Dari mana dia punya ide untuk menghasilkan itu semua? It's too easy to answer, Menulis memang petualangan intelektual dan imajinatif! Yakinlah itu dan coba kerjakan!
Ada beberapa pelajaran yang mungkin bisa menjadi motor atau pelumas bagi motor kita yang lagi mandek ketika ingin memulai manulis:
1. Jangan terlalu terfokus sama teori menulis, tulislah apa saja yang terlintas di benak anda.
2. Mulailah dengan mencicil, artinya dengan memulai dari yang ringan-ringan, seperti resep masakan, e-mail, pesan atau tanggapan-tanggapan di mailist, and so on.
3. Jika mengalami deadlock atau kebuntuan di tengah jalan, tinggalkan saja, jangan dibaca lagi dari awal, karena pasti akan mengubah segalanya.
4. Jangan menulis sesuatu yang belum dikuasai atau referensinya susah didapatkan.
5. "Jangan dulu memikirkan gaya (style) menulis" (Pak Sudarlin), jika perlu contek saja gaya penulis yang paling anda senangi. Gaya menulis orisinil pribadi akan muncul dengan sendirinya seiring perjalanan kematangan kemampuan menulis.
6. Sebelum jadi generalis dalam soal tulis-menulis, jadilah spesialis dulu dalam satu bidang sabagai bahan tulisan anda. Jika anda senang menulis tentang remaja, kuasailah seluk-beluk dunia remaja, jika anda senang menulis cerpen, puisi atau novel, biasakan mengatur imajinasi anda dan ungkapkan itu senyata mungkin, jika anda senang menulis yang ilmiah, banyaklah membaca dan berfikir positif.
7. Cermatilah kelebihan, keunggulan karya penulis yang anda sukai dan carilah sesuatu yang membuat anda menyukainya.
8. Sediakan notebook yang bisa selalu menemani anda untuk mengungkapkan ide-ide kreatif anda. Karena ide-ide kreatif itu layaknya Jailangkung, datang tak diundang dan pergi tak diantar alias tanpa izin.
9. Apabila anda sudah PeDe untuk mempublikasikan tulisan anda, "cobalah anda kirim ke beberapa media kelas menengah ke bawah, nggak usah yang underdog banget, ini untuk test case tulisan anda saja, dapat dimuat atau tidak" (Mas. Rusdi).
Sebagai seorang yang baru mulai melakukan first step untuk menulis, kita tidak perlu punya kecendrungan untuk bermuluk-muluk atau berlagak macam-macam. Tugas penulis adalah menulis dan menceritakan apa saja yang diserapnya dari kehidupan ini, yang menurutnya perlu diketahui oleh pembacanya. Ingat, menulis adalah proses pemindahan isi kepala anda ke dalam goresan pena dengan tujuan goresan itu bisa berpindah ke kepala orang lain seperti yang anda inginkan.
Apapun kebiasaan menulis yang anda lakoni, anda tetap butuh bekal untuk mengeluarkan gagasan itu, meskipun itu hanya sebuah cerpen yang isinya fiktif belaka. Bekal ini tidak ada hubungannya dengan bakat. Jangat pernah membawa-bawa kata "bakat" dalam dunia tulis-menulis, belajar menulis nggak ada hubungannya dengan bakat at all alias nggak ada hubungannya blas! Semua itu adalah latihan dan latihan. Belajar menulis ibaratnya belajar bahasa asing, semuanya butuh practice dan custom! Dalam hal ini kata-kata Guru matematika di SD dulu bisa dipakai lagi "One kilo practice is better than a ton theory!" Saya yakin anda setuju!
Memang ada beberapa orang yang dilahirkan dengan word smart (kecerdasan linguistik) di atas rata-rata, seperti T.S.Elliot, seorang sastrawan yang pada usia sepuluh tahun telah menciptakan majalah dengan nama Fire Side serta mampu terbit delapan nomor dalam tiga hari. Namun itu hanya satu dari seribu, jika demikian maka mustahil akan banyak penulis di dunia ini.
Jadi bekal apa yang harus disiapkan oleh seorang penulis? Ada tiga, Banyak membaca, Banyak bersilaturahim dan Banyak berjalan mengunjungi berbagai tempat di muka bumi Rabb ini....,
Banyak membaca akan mengisi ruang-ruang kosong dalam memori otak kita, seperti informasi dan ilmu. Suatu saat informasi itu akan kita panggil untuk membantu kita menulis.
Banyak bersilaturahim alias gaul akan membuat kita kaya akan pengalaman orang lain, baik itu teman, keluarga maupun orang asing yang ketemu di Bus pulang kuliah. Setidaknya kita akan mendapatkan input berupa informasi, syukur-syukur dapat ilmu atau Cuma sekedar cerita yang bisa membuat kita tersenyum yang nantinya bisa kita gunakan untuk pengayaan tulisan kita. Ketika kita banyak bergaul, tanpa terasa orang-orang itu telah manyumbangkan ide-ide kreatif dan inspirasi tulisan yang luar biasa bagi kita.
Banyak berjalan akan membuat kita memiliki catatan dan ingatan tentang fenomena suatu tempat, peristiwa maupun situasi ataupun kondisi masyarakat di suatu daerah. Kita akan menulis lancar kalau cakrawala dan wawasan kita tentang berbagai tempat di belahan dunia juga banyak.
Jadi ketika ide-ide segar sudah di tangan, tinggal melatihkan dengan cara langsung menuliskannya. Learning by doing adalah konsep berlatih menulis.Wallahu A'lam.
*)) Ditulis setelah mengikuti Workshop "Publikasi Karya Ilmiah" Sabtu, 09 November 2013 (Bertepatan dengan Ulang Tahun Ikasuka Kimia yang ke-1 Tahun).


0 comments:
Post a Comment