MENGGAGAS UIN SUKA SATU


UIN SUKA...., apa yang terbesit di hati dan pikiran kita ketika mendengar kata itu?? terlebih untuk setiap kita yang bersinggungan dengan nya, yang ada di dalam nya, menjadi bagian dari nya dan merasakan kontribusi yang telah diberikan??

Ya, kita sebagai seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga....,

Kebanggaan kah?? biasa saja -no response-?? minder kah?? penyesalan?? atau justru cibiran yang kita keluarkan untuk menjelek-jelek kan nya??

1. Kebanggaan...., bangga akan suatu hal yang diharapkan dan dapat kita wujudkan. Bangga menjadi bagian dari sebuah nilai besar, sebuah pencapaian besar, sebuah nama besar, sebuah ikatan keluarga besar, sebuah kontribusi besar, sebuah tujuan besar.

2. Biasa...., seperti oksigen yang biasa kita hirup. Cahaya matahari yang senantiasa menyinari. Menjadi hal biasa karena seringnya interaksi yang dianggap biasa walaupun sebenernya bermakna. Biasa karena tak ada tujuan, tak ada arah, mengalir bagaikan air. Apapun itu, sama saja. Biasa. Biasa karena apriori, tidak peka, tidak peduli....,

3. Minder...., merasa rendah dengan identitas yang melekat bersama nya. Merasa yang lain lebih baik. Menjadikan yang lain sebagai pelarian. Fakultas......, Itu misalnya, menjadikan fakultas sebagai obat atas sakit ketidakpuasan dan pengharapan yang tidak terpenuhi. Mendiskreditkan nama besar universitas.

4. Menyesal...., atas sesuatu yang tidak sesuai harapan. Atas keadaan yang mengharuskan nya berada dalam kondisi saat ini. Terpaksa. Kondisi nyata, tak sesuai harapan. Apakah karena letaknya di Jogja. Apakah karena kualitas pengajaran yang kurang optimal. Tipikal mahasiswa nya yang dianggap tidak sesuai harapan. Kondisi yang dirasa kurang nyaman, dan masih mengharapkan kondisi ideal yang dirasakan.

5. Menyerang...., merasa terganggu menjadi bagian dari nya. Menanggung beban atas ketidaknyamanan yang dirasa. Representasi kekecewaan yang pernah diterima. Bisa juga karena ketidakstabilan emosi yang berbeda. Exposure lingkungan yang banyak mempengaruhi. Kulminasi hal tersebut terealisasikan kedalam bentuk penurunan nilai istitusi, cibiran, menjelek-jelekan.

Cukup miris. Ketika sebuah institusi pendidikan, sebuah universitas, tidak mendapat hati bagi mahasiswa nya sendiri!

Bangga. Biasa. Minder. Menyesal. atau Menjatuhkan pun. Kita akan tetap menjadi mahasiswa UIN SUKA...., atau setidaknya pernah menjadi mahasiswa UIN SUKA. Layaknya seorang anak terhadap orang tua, apapun yang dia lakukan, dia akan tetap menjadi anak...., UIN SUKA adalah orang tua yang membesarkan kita dalam tataran pendidikan....,

UIN SUKA adalah anugrah bagi setiap kita. Dan kita adalah hadiah bagi UIN SUKA.
Dengan segala kelebihan dan kekurangan nya, itulah harmonisasi yang tercipta. Sebuah keseimbangan yang seharusnya saling melengkapi, saling memberi solusi...,

Tak ada alasan untuk kita untuk tidak selalu bersyukur atas segala keadaan yang telah ditetapkan-Nya....,


Memang, kekurangan itu akan ada..., disanalah hakikat nya harus terus ada perbaikan, harus ada perubahan kearah yang lebih baik. Dan untuk sebuah institusi, itu hanya akan menjadi keniscayaan ketika tidak ada pelaku perbaikan..., pelaku perubahan nya. Dan disinilah untuk tataran universitas, mahasiswa mengambil porsi yang besar untuk itu. Mereka yang merasa memiliki, mencoba menumbuhkan kebanggan, dan yang merepresentasikan rasa syukurnya.
Semangat MEMBERI untuk MENUMBUHKAN, itu yang harus dibangun.....,
Karena penyesalan, merasa banyak kekurangan, mencibir, itu tak akan banyak mengubah sesuatu. Kondisi akan tetap seperti itu, dan perasaan kita akan tetap tidak nyaman seperti itu. Kerugian nya ganda. Bandingkan ketika kita sudah merasa memiliki, menumbuhkan rasa bangga, dan merepresentasikan rasa syukur kita dengan memberi, memberi sebuah bentuk pengabdian untuk mengubah ke kondisi ideal yang diharapkan. Keuntungan nya ganda....,

Apapun itu alasan nya, apakah karena UIN SUKA pilihan ke-2, apakah karena dipaksa berkuliah disini, apakah karena salah masuk, apakah karena rekan-rekan kita banyak yang menjatuhkan UIN SUKA, atau berbagai alasan lain yang menjadikan setiap kita masih berat untuk menerima kondisi itu..., maka berhenti meratapai keadaan, sambut sinar mentari, dan jadilah lilin-lilin yang ikut menyinari kegelapan. Ketika yang lain gugur atau bersikap menyerang, sudah saatnya kita yang bertahan untuk menjaga nama besar institusi yang membesarkan kita...., memperbaiki segala kekurangan, menuju bentuk keidealan yang diharapkan, tidak mengeluh dan hanya meratapi nasib, berhenti sampai disitu.


MENGGAGAS UIN SUKA SATU. Tak harus dengan gerakan kemahasiswaan nya yang terkoordinasi dan terintegrasi dalam stugov nya menjadi satu gerakan, tak harus dengan kesamaan visi yang dipahami setiap civitas akademika nya, tak harus dengan sinergisitas berbagai aktifitas yang ada di dalam nya, dan tak harus dengan berbagai kegiatan, aktifitas, atau pemikiran berat lain nya.
Hal tersebut memang akan sangat baik jika kita bisa capai, tapi ada hal lain yang SEDERHANA tapi NYATA yang sering kita lupakan..
Menggagas UIN SUKA satu dengan rasa memiliki, menumbuhkan kebanggaan, dan menghadirkan syukur di dalam diri setiap kita...,
Sadarlah bahwa kita adalah mahasiswa UIN SUKA..., kita adalah bagian dari nya, kita yang memiliki nya, kita yang menjaga nya, kita yang memperbaiki nya, dan bangga akan itu, sebagai bentuk syukur pada-Nya.., lepaskan ego besar fakultas, atau mungkin tak perlu dilepaskan, tapi jadikan itu hal yang sinergis linear, kebesaran fakultas adalah kebesaran UIN, jangan mendikotomikan fakultas dengan universitas. Karena tak kan ada fakultas tanpa ada universitas, sehingga sebuah konsekuensi logis ketika segala kekurangan dan kelebihan Universitas melekat dan mengakar pada diri setiap kita, apapun itu fakultas nya, apapun itu jurusan nya....,


Yakinlah, UIN SUKA adalah anugrah terbaik, dan kita adalah hadiah untuk nya.

MAKA NIKMAT TUHAN MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN??
 #to be continue...,

0

0 comments:

Post a Comment