Aku rindu dengan zaman itu
ketika ba'da Maghrib riuh rendah suara dzikir dan murajaah Qur'an dan pelajaran tiap hari
Aku rindu dengan zaman itu...,
ketika setiap bertemu sapa sesama
'Assalmmu'alaikum kaka' sambil sun tangan
Aku rindu dengan zaman itu...,
ketika kerudung lebar menjadi kebanggaan dan pembeda...
Aku rindu.., ketika semua berlomba untuk mendapatkan shaf terdepan karena takut tak di rahmati olehNya..
Aku rindu..
saat muharrik luughoh berdiri dengan buku mukhoolifahnya semua diam tegang tercengang..
Aku rindu saat cas cis cus berbahasa adalah sutau yang di banggakan karena menjadi sebuah jati diri yang punya integritas..
saat memanggil teman tidak dengn teriak-teriak...
saat di sapa ustadzah adalah sebuah kebanggan dan kesenangn tersendiri..
Atau malu berujung haru..
saat himar di potong dengan tangan melipatnya ke pundak..
atau berhelai helai rambut seolah pancarkan kepesonaan diri..
sambil memegang pop ice atau makann gorengan lainnya dan mengunyah berjalan pun jadi tambahan...
atau saat tak takut dosa karena ocehan ustadzah pun jadi sarapan sebelum brangkat sekolah.., atau atas fasilitas yang belum memadai dan aturan yang tidak sesuai dengan santri..
Sangat rindu meski aku hanya 3 tahun bukan 6 atau 5 tahun...
ada rasa cemburu saat 'mereka' (alumni) bercerita...
atau saat tiap malam sang kakak mengajarkan adiknya belajar.., semangat gerakan hisbah.., doa sang adik pun maqbul dengn mudah..
rindu saat taat bukan karena dilihat atau karena menjabat...
tapi karena yakin taat membwa berkah..
Atau malu yang saangat benar benar malu..
saat tiba di masjid namun shalat sudah di mulai, dan indibath pun dengan tegas meng'gebuk' dengn gulung sajadah yang sudah turun temurun..
sakit! sangat sakit! apalagi kalo sang Kabid yang meng'gebuk' (lari ajadeh....,)
atau saat ta'mir memergoki karena tak bawa Qur'an...
(aduuuh..., mau di simpan dimana muka saya ini?? mana baca di depan santri dengn Qur'an ta'mir segedegede abag... aduhh.., kesannya kaya saya bohong bahwa saya seorng muslim. Al-Qur'an dusturunaa..., mana buktinya???)
Aku Rindu Dengan Zaman Itu
Aku rindu zaman ketika “halaqoh” adalah kebutuhan,
bukan sekedar sambilan apalagi hiburan
Aku rindu zaman ketika “membina” adalah kewajiban,
bukan pilihan apalagi beban dan paksaan
Aku rindu zaman ketika “dauroh” menjadi kebiasaan,
bukan sekedar pelengkap pengisi program yang dipaksakan ( realitaa......, rabbb...)
Aku rindu zaman ketika “tsiqoh” menjadi kekuatan,
bukan keraguan apalagi kecurigaan
Aku rindu zaman ketika “tarbiyah” adalah pengorbanan,
bukan tuntutan dan hujatan
Aku rindu zaman ketika “nasihat” menjadi kesenangan,
bukan su’udzon atau menjatuhkan
Aku rindu zaman ketika kita semua memberikan segalanya untuk da’wah ini
Aku rindu zaman ketika “nasyid ghuroba” menjadi lagu kebangsaan
Aku rindu zaman ketika hadir di “liqo” adalah kerinduan, dan terlambat adalah kelalaian
Aku rindu zaman ketika malam gerimis pergi ke puncak mengisi dauroh
dengan ongkos ngepas dan peta tak jelas
Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah benar-benar jalan kaki 2 jam di malam buta sepulang tabligh dakwah di desa sebelah
Aku rindu zaman ketika akan pergi liqo selalu membawa uang infak, alat tulis, buku catatan dan Qur’an terjemahan ditambah sedikit hafalan
Aku rindu zaman ketika seorang binaan menangis karena tak bisa hadir di liqo
Aku rindu zaman ketika tengah malam pintu depan diketok untuk mendapat berita kumpul subuh harinya
Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah berangkat liqo dengan ongkos jatah belanja esok hari untuk keluarganya
Aku rindu zaman ketika seorang murobbi sakit dan harus dirawat, para binaan patungan mengumpulkan dana apa adanya
Aku rindu zaman itu,
Aku rindu Ya ALLAH....,
Jangan Kau buang kenikmatan berda’wah dari hati-hati kami
Jangan Kau jadikan hidup ini hanya berjalan di tempat yang sama

0 comments:
Post a Comment